A Walk To REMEMBER [CHAPTER 11]


babythinkgirl___remember-copy

Tittle : A Walk To Remember by nicholas sparks || Maincast : Yoona SNSD, Chanyeol EXO || Lenght : Chapter

“Kaulah pria pertama yang pernah kucium,” kata Yoona kepadaku.

Saat itu beberapa hari sebelum tahun baru, aku dan Yoona sedang berdiri di Dermaga Iron Steamer, Pantai Pine Knoll. Untuk sampai di sana, kami harus menyeberangi jembatan yang membentang  melintasi Terusan Antarpantai dan  melewati jalan kecil di pulau  itu. Sekarang tempat itu menjadi hunian tepi laut yang paling mahal di seluruh negeri, tapi di masa itu yang ada di sana hanyalah gundukan-gundukan pasir yang berlatar Hutan Maritim Nasional.

“Sudah kusangka begitu,” sahutku.
“Kenapa?” tanyanya polos. “Apakah aku berbuat salah?” Kelihatannya ia tidak akan terlalu tersinggung kalau aku mengiyakannya, namun kenyataannya tidak begitu.
“Kau pandai berciuman,” kataku sambil meremas tangannya.

Ia mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah laut, matanya mulai memandang kekejauhan lagi. Pandangannya sering menerawang belakangan ini. Aku membiarkannya selama beberapa saat sampai keheningan itu mulai terasa agak mencekam.
“Kau tidak apa-apa kan, Yoona?” tanyaku akhirnya.
Bukannya menjawab, ia malah mengalihkan pembicaraan.
“Apakah kau pernah jatuh cinta sebelumnya?” tanyanya kepadaku.
Aku menyisir rambutku dengan tangan kemudian menatapnya. “Maksudmu sebelum ini?”
Aku mengatakannya mengikuti cara yang digunakan oleh James Dean, seperti yang diajarkan Kai kepadaku kalau sampai ada seorang gadis mengajukan pertanyaan itu. Kai memang licik dalam menghadapi perempuan.
“Aku serius, Chanyeol,” kata Yoona, sambil melirik ke arahku.
Kurasa Yoona juga pernah melihat film-film seperti itu. Aku kemudian menyadari bahwa bersama Yoona aku selalu merasa terombang-ambing. Aku tidak begitu yakin apakah aku menyukai bagian itu dari hubungan kami, meskipun sejujurnya, hal itu membuatku selalu waspada. Aku masih merasa rikuh menanggapi pertanyaannya.
“Sebetulnya pernah,” sahutku akhirnya.
Matanya masih tertuju ke arah laut. Aku merasa ia mengira yang kumaksud adalah Seohyun, tapi setelah aku sempat merenungkannya kembali, aku menyadari bahwa apa yang kurasakan pada Seohyun benar-benar berbeda dengan yang kurasakan padanya saat itu.
“Dari mana kau tahu apa yang kaurasakan adalah cinta?” tanyanya padaku.
Aku mengawasi angin menerpa rambutnya dengan lembut, dan aku tahu bukan saatnya lagi bagiku untuk berpura-pura menjadi orang lain.
“Oke,”  sahutku  serius,  “kau  tahu  itu  adalah  cinta  ketika  yang  kauinginkan  hanyalah melewatkan waktumu bersama orang itu, dan entah bagaimana caranya kau tahu bahwa orang itu juga merasakan hal yang sama.”
Yoona tampak memikirkan jawabanku sebelum tersenyum samar.
“Oh, begitu,” ujarnya pelan. Aku menunggu Yoona menambahkan sesuatu, namun ia tidak melakukannya, dan tiba-tiba aku mulai menyadari suatu kenyataan lain.
Yoona memang tidak punya banyak pengalaman dengan cowok, tapi terus terang, ia sedang mempermainkanku seperti sebuah harpa.
Selama dua hari berikutnya, ia mengikat rambutnya ke atas lagi.

Pada Malam Tahun Baru aku mengajak Yoona makan malam di luar. Baru pertama kali inilah ia sungguh-sungguh pergi berkencan, dan kami pergi ke restoran kecil di tepi pantai di Morehead City, sebuah restoran bernama Flauvin’s. Flauvin’s adalah restoran yang mejanya dilapisi taplak, berpenerangan lilin, dan lima macam perangkat sendok garpu dari perak untuk setiap orang. Para pelayannya mengenakan pakaian berwarna hitam dan putih, mirip butler, dan kau bisa menyaksikan sinar bulan memantul di atas air yang bergerak perlahan jika kau menatap ke luar melalui jendela-jendela besar yang menutupi dinding.

Di sana juga ada pemain piano dan penyanyi, meskipun tidak setiap malam atau bahkan setiap akhir  minggu, tapi mereka ada pada hari-hari libur di saat  mereka memperhitungkan bahwa tempat akan penuh.
Aku harus memesan tempat lebih dulu, dan mereka mengatakan tempat sudah penuh ketika
pertama kali aku menelepon. Setelah itu aku meminta ibuku menghubungi mereka, dan setelah itu kau tentu tahu apa yang terjadi. Kurasa pemilik restoran membutuhkan sesuatu dari ayahku atau semacamnya, atau mungkin ia cuma tidak ingin membuatnya marah, mengingat kakekku masih hidup saat itu.
Sebetulnya ide untuk mengajak Yoona pergi ke suatu tempat yang istimewa datangnya dari ibuku. Beberapa hari sebelumnya, di salah satu hari Yoona mengikat rambutnya ke atas, aku menceritakan kepada ibuku apa yang telah terjadi selama itu.
“Aku terus memikirkan Yoona, Mom,” kataku. “Maksudku, aku tahu ia menyukaiku, tapi aku tidak tahu apakah ia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan.” “Apakah Yoona begitu berarti bagimu?” tanyanya.
“Ya,” sahutku pelan.
“Oke, apa yang telah kauupayakan sejauh ini?”
“Apa maksud Mom?”
Ibuku  tersenyum.  “Maksudku  adalah,  gadis-gadis  muda  termasuk  Yoona  senang  dibuat merasa istimewa.”
Aku mempertimbangkan ucapan ibuku selama beberapa saat, agak bingung. Bukankah itu yang sudah kulakukan selama ini?
“Aku sudah pergi ke rumahnya setiap hari,” ujarku.
Ibuku meletakkan tangannya di atas lututku. Meskipun ia bukan ibu rumah tangga yang paling hebat dan kadang-kadang memojokkanku, seperti yang sudah pernah kuungkapkan sebelumnya, ia tetap seorang ibu yang manis.
“Pergi  ke  rumahnya  memang  hal  yang  baik  untuk  dilakukan,  tapi  bukan  yang  paling romantis. Kau seharusnya melakukan sesuatu yang benar-benar mengungkapkan bagaimana perasaanmu terhadapnya.”
Ibuku mengusulkan kepadaku untuk membelikannya parfum. Meskipun aku tahu Yoona mungkin akan senang menerimanya, aku tetap merasa hadiah semacam itu kurang tepat. Salah satu alasannya adalah, Baekhyun tidak mengizinkannya memakai makeup—kecuali saat ia tampil dalam pementasan drama Natal itu—aku yakin Yoona juga tidak boleh memakai parfum. Aku memberitahu  ibuku,  dan pada saat  itulah  ia  mengusulkan padaku  untuk  mengajaknya pergi makan malam di luar.
“Aku tidak punya uang lagi,” kataku padanya dengan sedih. Meskipun keluargaku termasuk berada dan selalu memberikan uang saku padaku, mereka tidak pernah memberikan uang lebih kalau aku kehabisan uang. “Untuk membangun rasa tanggung jawab,” jelas ayahku dulu. “Mana uangmu yang kausimpan di bank?”

Aku menghela napas, dan ibuku duduk diam sementara aku menjelaskan padanya apa yang telah kulakukan. Setelah aku selesai menjelaskan, suatu kesan puas yang mendalam membayang di wajahnya, seakan ia tahu bahwa akhirnya aku telah dewasa.
“Biar aku yang memikirkan soal itu,” ujarnya pelan. “Kau cukup mencari tahu apakah ia mau diajak  pergi dan  apakah  Pendeta  Im  mengizinkannya.  Kalau  memang  bisa,  kita  akan menemukan cara untuk mewujudkannya. Aku berjanji.”
Pada  hari  berikutnya  aku  pergi  ke  gereja.  Aku  tahu  Baekhyun  akan  berada  di  dalam  ruang kerjanya. Aku belum menanyakannya kepada Yoona karena aku membayangkan ia tetap akan membutuhkan izin dari ayahnya. Entah mengapa aku merasa bahwa akulah yang seharusnya meminta izin itu. Kurasa itu ada hubungannya dengan fakta bahwa Baekhyun masih belum dapat menerimaku dengan tangan terbuka saat aku berkunjung. Setiap kali ia melihatku melangkah di jalan  masuk  rumahnya—seperti  Yoona,  ia  juga  memiliki  indra  keenam  soal  itu—ia  akan mengintip ke luar melalui gorden, kemudian cepat-cepat menarik dirinya untuk bersembunyi di balik gorden, seakan aku tidak sempat melihatnya. Setiap kali aku mengetuk pintu, Baekhyun membutuhkan waktu yang lama untuk membukakan pintu untukku, seakan ia harus berjalan dari dapur. Ia akan menatapku selama beberapa waktu, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menggeleng sebelum akhirnya mengucapkan salam kepadaku.
Pintu ruang kerjanya dalam keadaan terbuka sedikit, dan aku melihatnya duduk di belakang mejanya, kacamatanya bertengger di atas hidungnya. Ia sedang memeriksa beberapa berkas— kelihatannya berhubungan dengan keuangan—dan aku menarik kesimpulan bahwa ia sedang membuat anggaran gereja untuk tahun berikutnya. Bahkan seorang pendeta pun punya sejumlah rekening yang harus dibayar.
Aku  mengetuk pintu, dan ia mengangkat  wajahnya dengan sigap, seakan mengharapkan kehadiran salah seorang  anggota jemaat  yang  lain,  kemudian  ia  mengangkat  alisnya  begitu melihat akulah yang datang.
“Halo, Pendeta Im,” tegurku dengan sopan. “Apakah Anda punya waktu?”
Penampilan Baekhyun bahkan lebih lelah daripada biasanya, dan aku menyimpulkan bahwa ia sedang kurang sehat.
“Halo, Chanyeol,” ujarnya dalam nada waswas.
Omong-omong, aku telah mengenakan pakaian yang layak untuk kesempatan itu, lengkap dengan jas dan dasi. “Bolehkah aku masuk?”
Ia mengangguk pelan, dan aku memasuki ruang kerjanya. Ia mempersilakanku duduk di kursi di depan mejanya.
“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.
Aku berusaha untuk duduk dengan nyaman di kursi itu. “Begini, Sir, aku ingin meminta sesuatu pada Anda.”
Ia menatapku, mengamati wajahku sebelum akhirnya berkata, “Apakah ada hubungannya dengan Yoona?” tanyanya.
Aku menarik napasku dalam-dalam.
“Betul, Sir.  Aku  ingin tahu  apakah Anda keberatan jika aku  mengajaknya pergi  makan malam di luar pada Malam Tahun Baru.”
Ia menghela napasnya. “Hanya itu?’ tanyanya.
“Ya, Sir,” sahutku. “Aku akan mengantarnya pulang pada pukul berapa pun Anda menginginkannya.”
Ia melepaskan kacamatanya dan mengelapnya dengan saputangan sebelum memakainya kembali.   Aku   bisa   melihat   bahwa   ia   menggunakan  kesempatan  itu  untuk  memikirkan jawabannya.
“Apakah orangtuamu akan ikut dengan kalian?” tanyanya.
“Tidak, Sir.”
“Kalau begitu kurasa itu tidak mungkin. Tapi terima kasih karena meminta izinku terlebih dulu.” Ia mengalihkan perhatiannya ke berkas-berkasnya, menyatakan dengan jelas bahwa sudah waktunya bagiku untuk pergi. Aku berdiri dari kursiku dan mulai melangkah menuju pintu. Saat aku akan keluar, aku menoleh sekali lagi ke arahnya.
“Pendeta Im?”
Ia mengangkat wajahnya, seakan heran aku masih ada di sana.
“Aku minta maaf atas semua yang pernah kulakukan ketika aku masih lebih muda, dan aku menyesal tidak  selalu  memperlakukan  Yoona  sebagaimana seharusnya  ia diperlakukan.  Tapi mulai sekarang, semua itu akan berubah. Aku berjanji pada Anda.”
Tatapannya tampak seakan menembus diriku. Rupanya itu belum cukup.
“Aku mencintainya,” ujarku akhirnya, dan setelah aku mengatakannya, perhatian Baekhyun terfokus pada diriku lagi.
“Aku  tahu,” sahutnya sedih,  “tapi aku  tidak  ingin  melihatnya terluka.” Meskipun cuma membayangkannya, sepertinya aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak akan menyakitinya,” kataku.
Ia mengalihkan pandangannya dan melihat  ke luar melalui jendela,  mengawasi  matahari musim dingin yang mencoba menembus gumpalan awan. Hari itu cuaca mendung, dingin, dan menggigit.
“Pastikan ia sudah sampai di rumah pada pukul sepuluh,” kata Baekhyun akhirnya, seakan ia tahu bahwa ia telah mengambil keputusan yang salah.
Aku  tersenyum  dan  ingin  mengucapkan  terima  kasih  kepadanya,  meskipun  aku  tidak melakukannya. Aku tahu ia ingin segera ditinggal sendirian. Ketika aku menoleh sebentar ke belakang dalam perjalananku keluar dari pintu, aku bingung saat melihat Baekhyun membekap wajahnya dengan dua tangan.
Aku mengajak Yoona satu jam setelah itu. Hal pertama yang dikatakannya adalah ia merasa tidak bisa pergi, tapi aku mengungkapkan padanya bahwa aku sudah berbicara dengan ayahnya. Ia tampak tercengang, dan aku merasa hal itu mempengaruhi pandangannya terhadap diriku selanjutnya. Namun aku tidak menceritakan padanya bahwa Baekhyun tampak nyaris menangis saat aku berjalan ke luar ruangan. Selain tidak mengerti, aku juga tidak ingin Yoona khawatir.
Namun malam itu, setelah berbicara dengan ibuku lagi, ia memberikan penjelasan yang terus terang bagiku cukup masuk akal. Rupanya Baekhyun menyadari bahwa putrinya mulai tumbuh dewasa dan perlahan-lahan ia harus melepaskannya padaku. Setidaknya, aku berharap itulah yang terjadi.
Aku menjemput Yoona tepat sesuai jadwal. Meskipun aku tidak memintanya untuk membiarkan  rambutnya  tergerai,  ia  tetap  melakukannya  untukku.  Kami  melaju  melintasi jembatan menuju restoran di tepi pantai itu tanpa berbicara. Saat kami tiba di tempat penerimaan tamu, pemilik restoran itu sendiri yang muncul dan mengantar kami ke meja. Ternyata kami mendapat salah satu meja terbaik.
Keadaannya sudah ramai pada saat kami tiba, dan di sekeliling kami tampak orang-orang sedang menikmati santapan. Orang-orang berpakaian modis pada Malam Tahun Baru ini, dan kami satu-satunya pasangan remaja di situ. Namun kurasa penampilan kami tidak terlalu mencolok.
Yoona tidak pernah ke Flauvin’s sebelumnya, tapi ia hanya membutuhkan beberapa waktu
untuk menyesuaikan diri. Ia kelihatan antusias, dan aku langsung tahu bahwa ibuku telah memberikan usul yang bagus.
“Benar-benar luar biasa,” ujarnya padaku. “Terima kasih telah mengajakku.” “Sama-sama,” sahutku tulus.
“Apakah kau sudah pernah kemari sebelumnya?”
“Beberapa   kali.   Ibu   dan   ayahku   kadang-kadang   kemari   saat   ayahku   pulang dari seoul.”
Ia menatap ke luar jendela dan memandang kapal yang sedang melewati restoran itu, lampu-lampunya terang-benderang. Untuk sesaat ia tampak takjub. “Indah sekali di sini,” ujarnya. “Sama seperti dirimu,” sahutku.
Wajah Yoona merona. “Kau bercanda.” “Aku serius,” sahutku pelan. “Sungguh.”
Kami berpegangan tangan sambil menunggu hidangan disajikan. Yoona dan aku mengobrol tentang beberapa hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir itu. Ia tertawa ketika kami membicarakan pesta dansa homecoming, dan akhirnya aku  mengakui alasanku  mengajaknya waktu itu. Ternyata Yoona tidak marah—ia hanya tertawa ringan menanggapinya—dan tanpa perlu kuberitahu kurasa Yoona sudah mengetahui alasanku mengajaknya.
“Apakah kau akan mengajakku lagi lain kali?” goda Yoona.
“Pasti.”
Hidangan makan malam itu  betul-betul lezat—kami sama-sama memesan ikan bass dan salad, dan setelah si pelayan akhirnya mengangkat piring-piring kami, terdengar suara musik. Kami masih punya waktu satu jam sebelum aku harus mengantar Yoona pulang, dan aku mengulurkan tanganku ke arahnya.
Tadinya kami merupakan satu-satunya pasangan di lantai dansa itu, semua mata mengawasi saat kami berdansa di tempat itu. Kurasa mereka semua tahu bagaimana perasaan kami satu sama lain, dan itu mengingatkan mereka pada masa muda mereka sendiri. Aku bisa melihat mereka tersenyum  penuh  arti  melihat  kami.  Cahayanya  redup,  dan  si penyanyi  mulai  melantunkan melodi yang lembut, aku memeluk Yoona dengan mata terpejam, sambil bertanya dalam hati apakah pernah ada sesuatu dalam hidupku yang sesempurna ini.
Aku  sedang  jatuh  cinta,  dan  perasaan  itu  bahkan  lebih  indah  daripada  yang  pernah kubayangkan sebelumnya.
Setelah Tahun Baru kami melewatkan satu setengah minggu berikutnya bersama-sama, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pasangan-pasangan muda ketika itu, meskipun kadang-kadang  Yoona  tampak  lelah  dan  gelisah.  Kami  menghabiskan  waktu  di tepi Sungai Neuse, melempar batu-batu ke air, mengawasi riak-riaknya sementara kami mengobrol, atau kami pergi ke pantai dekat Fort Macon. Mesipun saat itu musim dingin, warna laut bernuansa metalik, itu tetap menjadi kegiatan yang kami nikmati. Setelah sekitar satu jam biasanya Yoona akan memintaku mengantarnya pulang, dan kami akan berpegangan tangan di dalam mobil. Kadang-kadang, sepertinya Yoona nyaris tertidur sebelum kami sampai di rumah, sementara di lain waktu ia akan terus mengoceh sepanjang perjalanan sampai aku nyaris tidak mendapat kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Tentu saja,  menghabiskan waktu bersama Yoona  juga berarti melakukan  hal-hal yang  ia sukai. Meskipun aku tidak mau mengikuti kelas pendalaman Alkitab—aku tidak ingin tampak tolol di hadapannya—kami tetap masih mengunjungi panti asuhan itu dua kali lagi. Setiap kali kami ke sana, aku jadi semakin betah. Tapi kami terpaksa pulang lebih awal suatu hari, karena Yoona agak demam. Bahkan bagi mataku yang kurang terlatih jelas terlihat mukanya memerah.
Kami juga berciuman lagi, meskipun tidak setiap kali kami berduaan. Aku bahkan tidak berniat untuk berbuat lebih jauh dari itu. Aku menganggap itu tidak ada perlunya. Ada sesuatu yang menyenangkan saat aku menciumnya, sesuatu yang lembut dan terasa benar, dan itu sudah cukup untukku. Semakin sering aku melakukannya, semakin aku menyadari bahwa Yoona telah salah dimengerti hampir seluruh hidupnya, tidak hanya olehku, tapi oleh semua orang.
Yoona bukan hanya sekadar putri seorang pendeta, orang yang sering membaca Alkitab, dan berusaha sebisanya untuk menolong yang lain. Yoona ternyata juga seorang gadis berusia tujuh bleas tahun dan memiliki berbagai harapan serta keraguan yang sama seperti diriku. Setidaknya, itulah asumsiku, sampai pada akhirnya ia bercerita padaku.
Aku tidak akan pernah melupakan hari itu karena Yoona begitu pendiam, dan aku merasakan perasaan aneh sepanjang hari bahwa ada sesuatu yang penting yang mengganggu pikirannya.
Aku  sedang  mengantarnya  pulang  dari  Cecil’s  Diner  pada  hari  Sabtu  sebelum  sekolah dimulai lagi. Hari itu angin menderu keras dan terasa menggigit, yang berasal dari timur laut dan sudah berlangsung sejak pagi sebelumnya. Kami harus berjalan berdekatan agar tubuh kami tetap hangat. Yoona merangkul lenganku, dan kami berjalan perlahan, bahkan lebih pelan daripada biasanya. Aku bisa melihat Yoona sedang merasa tidak terlalu sehat lagi. Tadinya ia tidak begitu ingin  pergi  bersamaku  mengingat  cuacanya,  tapi aku  tetap  memintanya  ikut  karena teman- temanku. Aku menganggap sudah waktunya teman-temanku akhirnya tahu mengenai hubungan kami. Masalahnya ternyata, seperti sudah ditakdirkan, tak seorang pun sedang berada di Cecil’s Diner pada saat itu. Sebagaimana kebanyakan komunitas daerah pesisir, keadaan di tepi pantai akan sepi selama musim dingin.
Yoona tidak banyak bicara saat kami berjalan, dan aku tahu bahwa ia sedang mencari cara untuk  mengatakan  sesuatu  kepadaku.  Aku  sama  sekali tidak  menyangka  ia akan  membuka percakapannya seperti itu.
“Orang-orang menganggapku aneh, kan?” tanya Yoona akhirnya, memecahkan keheningan. “Siapa maksudmu?” tanyaku, meskipun aku tahu jawabannya.
“Orang-orang di sekolah.”
“Tidak, mereka tidak menganggapmu begitu,” ujarku, berbohong.
Aku  mencium  pipinya  sambil  merapatkan  lengannya  ke  tubuhku.  Ia  mengernyitkan wajahnya, dan aku merasa telah menyakitinya, entah bagaimana caranya.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.
“Aku baik-baik saja,” sahutnya, sambil memulihkan kendali dirinya dan tidak mengalihkan percakapan. “Tapi, maukah kau melakukan sesuatu untukku?”
“Apa pun,” sahutku.
“Maukah kau berjanji padaku untuk selalu mengatakan yang sebenarnya mulai sekarang?
Maksudku, selalu berkata jujur?” “Tentu saja,” sahutku.
Ia menghentikan langkahku secara tiba-tiba dan menatap mataku lekat-lekat. “Apakah kau sedang berbohong padaku sekarang?”
“Tidak,” sahutku membela diri, sambil mempertanyakan ke mana arah pembicaraan kami. “Aku berjanji, mulai sekarang aku akan selalu mengatakan yang sebenarnya padamu.”
Entah mengapa, saat aku mengatakan itu, aku tahu bahwa aku akan menyesalinya kelak.
Kami mulai melangkah lagi. Saat kami menyusuri jalan, aku melihat sekilas ke tangannya yang melingkar di lenganku, dan aku melihat sebuah memar yang cukup besar persis di bawah jari manisnya. Aku tidak tahu apa penyebabnya, karena memar itu tidak ada di sana kemarin. Untuk  sesaat  aku  mengira  bahwa  itu  mungkin  terjadi  gara-gara  aku,  tapi  kemudian  aku menyadari bahwa aku bahkan tidak menyentuhnya di sana.
“Orang-orang menganggapku aneh, kan?” tanyanya lagi. Napasku keluar membentuk uap asap kecil-kecil.
“Ya,” sahutku akhirnya. Sakit rasanya hatiku mengatakan itu. “Kenapa?” Ekspresinya nyaris kelihatan sedih.
Aku memikirkan jawabanku. “Mereka punya alasan sendiri-sendiri,” jawabku samar, sambil berusaha mengendalikan diriku.
“Tapi kenapa, persisnya? Apa karena ayahku? Atau apakah karena aku berusaha bersikap baik?”
Aku tidak ingin terlibat dalam hal ini.
“Kurasa begitu,” hanya itu yang dapat aku katakan. Aku merasa tidak enak.
Yoona sepertinya kecewa, dan kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan.
“Apakah kau juga menganggapku aneh?” tanyanya kepadaku.
Caranya menanyakan membuat hatiku lebih sakit daripada yang kubayangkan sebelumnya. Kami hampir sampai di rumahnya sebelum aku menghentikan langkahnya dan memeluknya erat- erat. Aku menciumnya, dan ketika kami saling menarik diri, ia menundukkan kepalanya.
Aku  meletakkan  jariku  di  bawah  dagunya,  mendongakkan  kepalanya,  dan  membuatnya menatapku kembali. “Kau pribadi yang istimewa, Yoona. Kau cantik, kau baik, kau lembut… kaulah   segalanya   yang   aku   inginkan.   Kalau   orang-orang   itu   tidak   menyukaimu,   atau menganggap dirimu aneh, itu masalah mereka sendiri.”
Dalam  cahaya  remang-remang  di  suatu  hari  di  musim  dingin,  aku  bisa  melihat  bibir bawahnya mulai bergetar. Aku juga merasakan hal yang sama, dan tiba-tiba aku menyadari bahwa jantungku berdebar cepat sekali. Aku menatap matanya lekat-lekat, tersenyum padanya dengan segenap perasaanku. Aku tahu bahwa aku tidak bisa memendam kata-kata itu lebih lama lagi.
“Aku mencintaimu, Yoona,” ujarku padanya. “Kaulah hal terbaik yang pernah terjadi pada diriku.”
Baru pertama kali itulah aku mengucapkan kata-kata itu kepada seseorang selain kepada salah seorang anggota keluargaku yang terdekat. Saat aku membayangkan mengatakan kalimat itu kepada seseorang, entah mengapa aku mengira itu sulit, tapi nyatanya tidak. Aku belum pernah merasa seyakin itu.
Tapi setelah  aku  mengucapkan  kata-kata  itu,  Yoona  menundukkan  kepalanya  dan  mulai menangis, sambil menyandarkan dirinya pada tubuhku. Aku memeluknya, bertanya-tanya apa yang salah. Tubuhnya kurus, dan untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa aku dapat melingkarkan seluruh lenganku saat merangkulnya. Berat badannya turun, bahkan dalam satu setengah minggu terakhir  ini, dan aku kemudian teringat  bahwa Yoona hampir tidak pernah menyentuh makanannya. Ia masih menangis di dadaku selama beberapa saat. Aku tidak tahu harus berpikir apa lagi, atau apakah Yoona juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Namun, aku sama sekali tidak menyesali kata-kataku. Kenyataan selalu jadi kenyataan, dan aku baru saja berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong lagi padanya.
“Kumohon jangan katakan itu,” ujarnya padaku. “Kumohon…”
“Tapi itu betul,” ujarku, mengira bahwa ia tidak mempercayai ucapanku.
Ia mulai menangis lebih keras lagi. “Maafkan aku,” bisiknya padaku di antara isakannya.
“Aku menyesal sekali…”
Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering.
“Kenapa kau  menyesal?” tanyaku, tiba-tiba aku  merasa harus tahu  apa sebetulnya  yang sedang mengganggu pikirannya. “Apakah karena teman-temanku dan apa yang akan mereka katakan? Aku tidak peduli lagi—sungguh.” Aku berusaha menemukan alasan, dalam keadaan bingung dan, ya—takut.
Yoona masih membutuhkan beberapa waktu untuk meredakan tangisnya, dan akhirnya ia mengangkat wajahnya ke arahku. Ia menciumku dengan lembut, nyaris seperti napas orang yang melewatimu di jalanan, kemudian jarinya mengusap pipiku.
“Kau tidak mungkin bisa jatuh cinta padaku, Chanyeol,” ujarnya dengan mata merah dan
sembap.  “Kita  masih  bisa  berteman,  kita  masih  bisa  saling  bertemu…  tapi kau  tidak  bisa mencintaiku.”
“Kenapa tidak?” kata Yoona perlahan, “aku amat sakit, Chanyeol.”
Konsep itu betul-betul asing sekali bagiku, sehingga aku tidak dapat memahami apa yang sedang dikatakannya padaku.
“Lalu kenapa? Paling-paling kau hanya butuh beberapa hari…”
Senyum sedih membayang di wajahnya, dan saat itulah aku tahu apa sebetulnya yang ingin disampaikannya padaku. Matanya terus menatapku saat ia akhirnya mengucapkan kata-kata yang membuat jiwaku beku.
“Aku sedang sekarat, Chanyeol.”

TBC ~~~
ini bakal jadi cerita yang panjang jadi ada beberapa chapter yang bakal aku password ^^
kalau mau tau password bisa langsung klik disini

gamsaa ^^~~

2 thoughts on “A Walk To REMEMBER [CHAPTER 11]

Give me your feedback ♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s