A Walk To REMEMBER [CHAPTER 10]


babythinkgirl___remember-copy

Tittle :A Walk To Remember By nicholas sparks || Maincast : Yoona SNSD, Chanyeol EXO || Lenght : Chapter

Aku  mengantar Yoona pulang dari panti asuhan malam itu. Mulanya aku tidak yakin apakah aku akan melakukan kebiasaan lama dengan pura-pura menguap dan meletakkan tanganku di pundaknya, tapi sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana perasaan Yoona terhadapku. Memang, ia telah memberikan hadiah paling istimewa yang pernah kuterima. Meskipun aku mungkin tidak pernah akan membukanya dan membacanya seperti yang dilakukan Yoona, aku tahu pemberian Alkitab itu baginya sama seperti memberikan sebagian dari dirinya sendiri. Namun Yoona memang termasuk orang yang akan mendonorkan sebuah ginjalnya pada orang asing yang ditemuinya di jalanan, kalau orang itu memang betul-betul membutuhkannya. Jadi aku tidak yakin akan arti hadiah yang diberikannya ini.

Yoona pernah mengatakan padaku bahwa ia bukanlah orang tolol, dan kurasa akhirnya aku mengakui bahwa Yoona memang tidak tolol. Ia mungkin saja… ehm, berbeda… tapi rupanya ia tahu apa yang telah kulakukan untuk anak-anak panti asuhan itu, dan kalau direnungkan kembali, kurasa ia sudah mengetahuinya bahkan di saat kami sedang duduk di lantai ruang tamunya. Ketika ia menyebutnya sebagai mukjizat, kurasa yang dimakusd Yoona adalah aku.

Seingatku, Baekhyun masuk ke dalam ruangan saat Yoona dan aku sedang membicarakannya, namun ia tidak banyak bicara ketika itu. Baekhyun tua memang tidak seperti biasanya belakangan ini, setidaknya sepanjang pengetahuanku. Oh, khotbah-khotbahnya masih tetap tentang uang, dan ia  masih  menyinggung  tentang  para  pezina,  tapi  akhir-akhir  ini  khotbahnya  lebih  pendek daripada biasanya, dan kadang-kadang ia akan berhenti di tengah khotbahnya dan akan memandang dengan tatapan aneh, seakan tiba-tiba teringat pada sesuatu, sesuatu yang menyedihkan.

Aku tidak tahu apa artinya, karena aku tidak mengenalnya dengan cukup baik. Saat Yoona membicarakan ayahnya, sepertinya ia sedang mendeskripsikan seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Aku tidak bisa membayangkan Baekhyun yang memiliki rasa humor sebagaimana aku tidak bisa membayangkan ada dua buah bulan di langit.

Bagaimanapun, ia memasuki ruangan sementara kami sedang menghitung uang, dan Yoona berdiri dengan air mata tergenang. Baekhyun bahkan seakan tidak menyadari kehadiranku di sana. Ia mengatakan pada putrinya bahwa ia bangga padanya dan menyayanginya, tapi kemudian ia kembali ke dapur untuk menyelesaikan khotbahnya. Ia bahkan tidak menyapaku sama sekali. Oke, aku tahu bahwa aku bukan anak muda yang paling religius dalam jemaatnya, namun aku tetap menganggap sikapnya agak aneh.

Saat  sedang  memikirkan  Baekhyun,  aku  melirik  ke  arah  Yoona  yang  sedang  duduk  di sebelahku. Ia sedang menatap ke luar jendela dengan wajah damai, tersenyum simpul, tapi pada saat yang sama tatapannya seakan menerawang. Aku tersenyum. Mungkin ia sedang memikirkan diriku. Tanganku mulai terulur ke arah tempat duduknya, namun sebelum aku berhasil meraih tangannya, Yoona memecah keheningan di antara kami.

“Chanyeol,” katanya sambil berpaling ke arahku, “apakah kau pernah memikirkan Tuhan?”

Aku menarik tanganku.

Saat  aku  sedang  memikirkan  Tuhan,  aku  biasanya  membayangkan-Nya  seperti  dalam lukisan-lukisan tua yang biasa aku lihat di gereja-gereja—sosok yang tinggi besar menjulang di atas suatu pemandangan alam, dalam jubah putih dan rambut panjang tergerai, jarinya menunjuk atau semacam itu—namun aku tahu bahwa bukan itu yang dimaksud Yoona. Ia sedang berbicara tentang rencana Tuhan. Aku membutuhkan beberapa waktu untuk menjawab.

“Tentu,” sahutku. “Kadang-kadang, kurasa.”

“Apakah kau pernah mempertanyakan mengapa ada beberapa hal harus terjadi sebagaimana adanya?”

Aku mengangguk, meskipun tidak begitu yakin.

“Aku sering memikirkan hal itu belakangan ini.”

Lebih sering daripada biasanya? Aku ingin bertanya, namun aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku tahu masih banyak yang ingin disampaikan Yoona, karena itu aku tetap diam.

“Aku tahu Tuhan memiliki rencana untuk kita semua, tapi kadang-kadang aku tidak mengerti apa pesan di balik itu. Apakah kau pernah mengalaminya?”

Ia mengatakannya seakan hal itu selalu kupikirkan sepanjang waktu.

Well,” ujarku, sambil berusaha untuk mengarang menjawab, “kurasa kita memang tidak harus mengerti sepanjang waktu. Kurasa kadang-kadang kita hanya perlu percaya saja pada- Nya.”

Kuakui  itu  jawaban  yang  lumayan  bagus.  Kurasa  perasaanku  terhadap  Yoona  membuat otakku  bisa  bekerja  lebih  cepat  daripada  biasanya.  Aku  bisa  melihat  bahwa  ia  sedang memikirkan jawabanku.

“Ya,” kata Yoona akhirnya, “kau benar.”

Aku tersenyum dalam hati dan mengubah topik pembicaraan, karena berbicara tentang Tuhan bukanlah jenis percakapan yang dapat membangkitkan suasana romantis.

“Kau tahu,” ujarku ringan, “rasanya menyenangkan tadi ketika kita duduk di bawah pohon.”

“Ya, memang,” ujarnya. Pikiran Yoona masih berada entah di mana. “Dan kau juga kelihatan cantik.”

“Terima kasih.”

Ini tidak selancar yang kuharapkan.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku akhirnya, dengan harapan perhatiannya akan teralih padaku kembali.

“Tentu,” sahutnya.

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Setelah pulang gereja besok, dan, ehm… setelah kau menghabiskan waktu bersama ayahmu… maksudku…” Aku terdiam sejenak dan menoleh ke arahnya. “Maukah kau datang ke rumahku untuk makan malam Natal?”

Meskipun wajahnya masih mengarah ke jendela, aku bisa melihat samar-samar bayangan sebuah senyum.

“Ya, Chanyeol, dengan senang hati.”

Aku menarik napas lega, sementara aku masih belum dapat mempercayai bahwa aku telah sungguh-sungguh mengajaknya. Aku bertanya-tanya bagaimana semua ini sampai bisa terjadi. Aku melewati jalan yang jendela-jendelanya tampak dihiasi lampu-lampu Natal, lalu melintasi Yeosu City Square. Beberapa menit kemudian, ketika aku mengulurkan tanganku ke arah kursinya, aku akhirnya berhasil menggenggam tangannya, dan Yoona tidak menarik tangannya menjauh. Itulah akhir malam yang sempurna.

* * *

Ketika kami tiba di depan rumahnya, lampu-lampu di ruang tamunya masih menyala dan aku bisa melihat Baekhyun di balik gorden. Kurasa Baekhyun sengaja menunggu karena ia ingin mendengar cerita tentang acara di panti asuhan itu. Entah itu, atau ia ingin memastikan bahwa aku tidak mencium putrinya di jalan masuk rumahnya. Aku tahu Baekhyun  akan mengangkat alisnya jika aku melakukan hal-hal semacam itu.

Aku sedang memikirkan—mengenai apa yang akan kulakukan di saat kami akhirnya harus berpisah, maksudku—saat kami keluar dari mobil dan mulai melangkah ke arah pintu. Yoona tampak   senang   dan   puas   pada   waktu   yang   bersamaan,   dan   kurasa   ia   gembira   aku mengundangnya untuk datang ke rumahku besok. Karena Yoona cukup cerdas untuk menarik kesimpulan mengenai apa yang telah kulakukan untuk anak-anak panti asuhan itu, kurasa ia juga cukup peka untuk memahami situasi ini. Kurasa ia bahkan menyadari bahwa baru pertama kali inilah aku mengajaknya menghabiskan waktu bersamaku atas kemauanku sendiri.

Saat kami menapakkan kaki di undakan depan rumahnya, aku melihat Baekhyun mengintip ke luar dari balik gorden kemudian menarik dirinya kembali. Sebagian orangtua, seperti orangtua Seohyun misalnya, itu berarti bahwa mereka tahu kau sudah sampai di rumah dan kau masih memiliki beberapa menit lagi sebelum mereka membukakan pintu. Biasanya itu memberi waktu untuk  bertatapan sambil  mengumpulkan keberanian untuk  berciuman.  Biasanya waktu  yang dibutuhkan memang selama itu.

Sejauh ini aku tidak tahu apakah Yoona mau menciumku, sesungguhnya aku tidak yakin ia mau. Tapi dengan penampilannya yang begitu cantik, dengan rambut tergerai dan semua yang terjadi malam itu, aku tidak ingin menyia-nyiakan peluang itu kalau memang ada. Aku dapat merasakan ketegangan di dalam perutku saat Baekhyun membuka pintu.

“Aku mendengar suara kalian,” ujarnya perlahan. Kulitnya tampak pucat seperti biasanya, dan ia kelihatan lelah.

“Halo, Pendeta Im,” sapaku dalam nada kecewa.

“Hai, Daddy,” sapa Yoona dengan riang beberapa saat kemudian. “Seandainya Daddy ikut tadi. Suasanya betul-betul luar biasa.”

“Aku ikut gembira.” Baekhyun seakan mengumpulkan keberanian kemudian berdeham. “Aku akan beri kalian kesempatan untuk saling mengucapkan selamat malam. Aku akan membiarkan pintunya terbuka.”

Baekhyun memutar tubuhnya dan kembali masuk ke ruang duduk. Dari tempatnya duduk, aku tahu bahwa ia masih dapat mengawasi kami. Ia berpura-pura membaca, meskipun aku tidak bisa melihat apa yang ada di tangannya.

“Aku senang sekali malam ini, Chanyeol,” ujar Yoona.

“Aku juga,” sahutku, sementara merasakan tatapan Baekhyun yang ditujukan ke arahku. Aku bertanya-tanya apakah Baekhyun  tahu  bahwa aku  telah  menggenggam tangan putrinya dalam perjalanan pulang.

“Pukul berapa sebaiknya aku datang besok?” tanya Yoona.

Alis Baekhyun tampak terangkat sedikit.

“Aku akan menjemputmu. Bagaimana kalau pukul lima?”

Ia menoleh ke belakang. “Daddy, apakah aku boleh mengunjungi rumah orangtua Chanyeol besok?”

Baekhyun mengangkat tangannya lalu menggosok matanya. Ia mendesah.

“Kalau itu kauanggap penting, boleh saja,” sahutnya.

Bukan jawaban yang terlalu meyakinkan, tapi cukup baik bagiku.

“Apa  yang  harus kubawa?” tanyanya. Sudah merupakan tradisi di daerah Setalan untuk menanyakan pertanyaan itu.

“Kau  tidak  usah  bawa  apa-apa,”  sahutku.  “Aku  akan  menjemputmu  pukul  lima  kurang seperempat.”

Kami masih berdiri di sana selama beberpaa saat tanpa mengatakan apa-apa, dan aku bisa melihat Baekhyun mulai agak kehilangan kesabarannya. Ia belum membalik selembar pun halaman bukunya sejak kami berdiri di sana.

“Sampai ketemu besok,” ujar Yoona akhirnya. “Oke,” sahutku.

Ia menundukkan kepalanya untuk sesaat, kemudian menatapku lagi. “Terima kasih telah mengantarku pulang,” katanya.

Setelah  itu,  ia  berbalik  dan  melangkah  masuk.  Sekilas  aku  melihat  seulas  senyum membayang lembut di bibirnya saat ia mengintip dari balik pintu, persis sebelum ia menutupnya.

Keesokan harinya aku menjemput Yoona tepat pada waktunya dan senang melihat rambutnya kembali tergerai. Ia mengenakan sweter yang kuberikan padanya, tepat sesuai janjinya.

Ibu maupun ayahku agak tercengang ketika aku menanyakan pada mereka apakah mereka tidak  keberatan  kalau  aku  mengundang  Yoona  untuk  makan  malam.  Sebetulnya  itu  bukan masalah—setiap kali ayahku pulang, ibuku akan menyuruh Helen, koki kami, memasak cukup banyak untuk sebuah pasukan kecil.

Kurasa aku belum menyebutkannya sebelum ini, mengenai si koki, maksudku. Rumah kami memiliki seorang pelayan dan seorang koki, bukan hanya karena keluargaku mampu, tapi juga karena ibuku bukan ibu rumah tangga paling hebat di muka bumi ini. Ia memang bisa membuat sandwich sekali-kali untuk  makan siangku. Tapi ada saat-saat  ketika mustard  bisa menodai kuku-kukunya, dan untuk melupakannya ia akan membutuhkan sedikitnya tiga sampai empat hari. Tanpa Helen, aku mungkin dibesarkan hanya dengan memakan kentang lembut hangus dan steik garing. Untungnya, ayahku sudah menyadari itu begitu mereka menikah, sehingga si koki maupun pelayan kami sudah bekerja di tempat kami sejak sebelum aku lahir.

Meskipun rumah kami lebih besar daripada rumah kebanyakan orang, itu bukan istana atau semacamnya, dan koki maupun pelayan kami tidak tinggal bersama kami karena kami tidak memiliki fasilitas tinggal yang terpisah atau semacam itu. Ayahku telah membeli rumah itu karena historisnya. Meskipun rumah kami bukan yang pernah ditinggali Blackbeard, yang tentunya akan menjadikannya lebih menarik lagi bagi orang seperti aku. Pemilik sebelumnya adalah  Richard  Dobbs  Spaight,  yang  pernah  ikut  menandatangani  Konstitusi.  Spaight  juga pernah memiliki rumah pertanian di daerah pinggiran New Bern, yang terletak sekitar empat puluh mil dari jalan besar, dan di sanalah ia dimakamkan. Rumah kami memang tidak setenar rumah tempat Dobbs Spaight dimakamkan, meskipun masih memberikan hak pada ayahku untuk membual di sepanjang lorong gedung Kongres. Setiap kali ayahku mengitari kebu n, aku bisa melihatnya berangan-angan mengenai warisan yang ingin ditinggalkannya. Entah mengapa itu membuatku sedih, karena apa pun yang akan ia lakukan, ia takkan pernah bisa mengungguli Richard Dobbs Spaight. Suatu peristiwa bersejarah seperti menandatangani Konstitusi hanya akan terjadi sekali selama beberapa ratus tahun, dan entah apa pun yang kaulakukan, seperti memperjuangkan  subsidi  para  petani  tembakau  atau  menyatakan  pendapatmu   mengenai “pengaruh Merah” tidak akan bisa menandinginya. Bahkan orang seperti aku tahu mengenai hal itu.

Rumah kami pernah tercatat dalam National Historic Register—dan kurasa masih sampai sekarang. Meskipun Yoona sudah pernah ke rumahku sebelumnya, ia tetap masih terkesan saat melangkah masuk ke rumahku. Ibu dan ayahku mengenakan pakaian yang bagus, begitu juga aku, dan ibuku mencium pipi Yoona untuk menyambutnya. Saat ibuku menciumnya, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak berpikir bahwa ibuku lebih berhasil daripada aku.

Kami  menikmati  makan  malam  yang  menyenangkan,  cukup  resmi  dengan  empat  menu utama meskipun tidak terlalu mengenyangkan. Orangtuaku dan Yoona mengobrol dengan akrab—meskipun aku mencoba nimbrung dengan lelucon-leluconku, sasarannya terasa kurang mengena, setidaknya orangtuaku tidak mengerti. Tetapi, Yoona tertawa, dan akui menganggapnya sebagai pertanda baik.

Setelah makan malam aku mengajak Yoona berjalan-jalan di kebun, meskipun saat itu musim dingin dan bunga-bunga tidak ada yang mekar. Setelah mengenakan jaket, kami melangkah ke luar menembus udara dingin. Aku bisa melihat asap yang keluar mengiringi embusan napas kami.

“Orangtuamu benar-benar pasangan yang luar biasa,” katanya kepadaku. Kurasa selama ini ia tidak memasukkan khotbah-khotbah Baekhyun di dalam hatinya.

“Mereka memang baik,” sahutku, “dengan cara mereka masing-masing. Ibuku sangat manis.” Aku mengatakan ini bukan hanya karena kenyataannya memang begitu, tapi juga karena hal yang sama biasanya diucapkan anak-anak tentang Yoona. Aku berharap Yoona menangkap maksudku.

Ia berhenti melangkah untuk memperhatikan semak-semak tanaman mawar. Bunga-bunga itu tampak gersang, dan aku tidak mengerti apa yang membuatnya merasa tertarik.

“Apakah benar yang mereka katakan tentang kakekmu?” tanya Yoona. “Apa yang diceritakan orang-orang tentang dirinya?”

Rupanya ia tidak menangkap isyaratku saat itu.

“Ya,” sahutku, sambil mencoba untuk tidak memperlihatkan rasa kecewaku.

“Itu menyedihkan,” ujarnya dalam nada ringan. “Makna hidup ini kan lebih daripada sekadar uang.”

“Aku tahu.”

Ia menatapku. “Sungguh?”

Aku tidak membalas tatapannya saat menyahut. Jangan tanyakan padaku mengapa.

“Aku tahu apa yang dilakukan oleh kakekku itu salah.”

“Tapi kau berniat untuk mengembalikannya, bukan?”

“Sejujurnya, aku belum pernah sungguh-sungguh memikirkan soal itu.”

“Tapi apakah kau akan melakukannya?”

Aku  tidak  langsung  menjawab,  dan  Yoona  mengalihkan  perhatiannya  dariku.  Ia  mulai memandangi tanaman mawar dengan tangkai-tangkainya yang gersang lagi, tiba-tiba aku sadar bahwa ia ingin aku mengatakan ya. Itu merupakan sesuatu yang akan ia lakukan tanpa berpikir dua kali.

“Kenapa kau selalu melakukan itu?” celetukku sebelum sempat menahan diri. Aku merasa darahku  naik  ke  pipiku.  “Membuatku  merasa  bersalah,  maksudku.  Kan  bukan  aku  yang melakukannya. Kebetulan saja aku lahir di dalam keluarga ini.”

Yoona mengulurkan tangannya untuk menyentuh setangkai mawar. “Tapi itu bukan berarti kau tidak dapat memperbaikinya,” ujarnya dengan lembut, “saat kau mendapatkan kesempatan untuk itu.”

Aku memahami benar maksud Yoona, dan jauh di dalam lubuk hatiku aku tahu bahwa ia benar. Namun keputusan itu, kalaupun harus diambil, masih jauh sekali. Menurut pendapatku, masih banyak hal penting lain yang harus kuselesaikan. Aku mengubah topik percakapan kami ke sesuatu yang terasa lebih mudah bagiku.

“Apakah   ayahmu   menyukaiku?”   tanyaku.   Aku   ingin   tahu   apakah   Baekhyun   akan mengizinkanku menemui Yoona lagi.

Yoona membutuhkan beberapa waktu sebelum menjawab.

“Ayahku,” ujarnya pelan, “mengkhawatirkanku.” “Bukankah semua orangtua begitu?” tanyaku.

Ia menundukkan kepalanya, kemudian melihat ke arah lain sebelum menatapku kembali.

“Kurasa ayahku berbeda dengan orangtua lain. Tapi ia menyukaimu, dan ia tahu aku senang bertemu denganmu. Karena itulah ia mengizinkanku datang ke rumahmu untuk makan malam ini.”

“Aku senang ia mengizinkanmu,” ujarku tulus. “Aku juga.”

Kami bertatapan di bawah penerangan cahaya bulan, dan aku hampir saja menciumnya di situ, namun ia keburu menoleh dan mengatakan sesuatu yang sempat membuatku bingung.

“Ayahku juga mengkhawatirkanmu, Chanyeol.”

Caranya mengatakan itu—lembut dan sedih pada waktu yang bersamaan—membuatku tahu bahwa alasannya bukan hanya sekadar karena ia menganggap diriku kurang bertanggung jawab, atau karena aku sering bersembunyi di balik pohon dan mengejeknya, atau bahkan karena aku merupakan bagian dari keluarga Chanyeol.

“Kenapa?” tanyaku.

“Untuk alasan yang sama seperti aku mengkhawatirkanmu,” sahutnya. Ia tidak menguraikan lebih lanjut, dan aku tahu saat itu bahwa ia menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan kepadaku, sesuatu yang juga membuatnya sedih. Namun baru kemudian aku tahu rahasianya itu.

Jatuh cinta pada gadis seperti Yoona jelas merupakan hal paling aneh yang pernah kualami. Bukan hanya ia gadis yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelum tahun ini— meksipun kami dibesarkan bersama—tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam seluruh caraku merasakan sesuatu untuknya. Sama sekali berbeda dengan perasaanku terhadap Seohyun, yang langsung kucium saat kami hanya berduaan. Aku belum pernah mencium Yoona. Aku bahkan belum pernah memeluknya atau mengajaknya ke Cecil’s Diner atau bahkan mengajaknya nonton film. Aku belum melakukan sesuatu yang biasanya kulakukan dengan cewek-cewek lain, namun demikian aku telah jatuh cinta padanya.

Masalahnya adalah, aku masih belum tahu bagaimana perasaannya terhadapku.

Oh  ya,  tanda-tandanya  memang  ada,  yang  sebetulnya  sama  sekali  tidak  luput  dari perhatianku.  Alkitab  itu,  tentu  saja,  yang  tampak  jelas,  tapi  selain  itu  aku  ingat  caranya menatapku saat menutup pintu rumahnya di Malam Natal. Ia juga telah membiarkanku menggenggam tangannya dalam perjalanan pulang dari panti asuhan. Menurutku jelas ada sesuatu—hanya aku masih belum yakin bagaimana cara mengambil langkah selanjutnya.

Ketika aku akhirnya mengantar Yoona pulang setelah acara makan malam Natal itu, aku menanyakan padanya apakah aku boleh datang ke rumahnya kapan-kapan, dan ia mengatakan itu akan  menyenangkan.  Begitulah persisnya  yang  ia katakan—“Itu  akan  menyenangkan”.  Aku tidak memedulikan sikap kurang antusiasnya—Yoona memang memiliki kecenderungan untuk berbicara seperti orang dewasa, dan kupikir karena itulah ia dapat bergaul dengan mereka yang lebih tua dengan begitu akrab.

Hari berikutnya aku berjalan ke rumahnya, dan hal pertama yang kuperhatikan adalah mobil Baekhyun sedang tidak ada di jalan masuk. Ketika ia membuka pintu, aku cukup tahu diri untuk tidak menanyakan kepadanya apakah aku boleh masuk.

“Halo, Chanyeol,” sapanya seperti biasa, seakan ia terkejut melihatku. Rambutnya kembali tergerai, dan aku menganggapnya sebagai pertanda baik.

“Hai, Yoona,” ujarku ringan.

Ia menunjuk ke arah kursi-kursi di depannya. “Ayahku tidak di rumah, tapi kita bisa duduk- duduk di teras kalau kau mau…”

Jangan tanyakan padaku bagaiman kejadiannya, karena aku juga masih belum dapat menjelaskannya. Sesaat aku berdiri di sana di hadapannya, bersiap-siap untuk berjan ke teras, namun ternyata aku tidak melakukannya. Bukannya melangkah ke arah kursi-kursi yang ditunjuknya, aku malah melangkah mendekati Yoona dan meraih tangannya. Aku menggenggam tangannya dan menatap matanya lekat-lekat, sambil bergerak semakin dekat. Ia tidak melangkah mundur, namun matanya melebar sedikit, dan untuk sekejap aku sempat mengira bahwa aku telah melakukan kesalahan dan nyaris tidak meneruskannya. Aku berhenti sebentar dan tersenyum,   sambil   memiringkan  kepalaku,   dan   hal   berikut   yang   kulihat   adalah   Yoona memejamkan   matanya  dan   juga  sedang   memiringkan  kepalanya.   Wajah  kami  semakin berdekatan.

Kejadiannya tidak sepelan itu, dan yang jelas tidak seperti ciuman yang kaulihat di dalam film-film zaman sekarang. Namun dalam caranya sendiri, ciuman kami amat istimewa. Satu hal yang terlintas dalam benakku saat bibir kami bertemu adalah aku yakin kenangan it u akan abadi selamanya.

TBC ~~~
ini bakal jadi cerita yang panjang jadi ada beberapa chapter yang bakal aku password ^^
kalau mau tau password bisa langsung klik disini

gamsaa ^^~~

Advertisements

2 thoughts on “A Walk To REMEMBER [CHAPTER 10]

Give me your feedback ♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s