A Walk To REMEMBER [CHAPTER 9]


babythinkgirl___remember-copy

Tittle : A walk to Remember by nicholas sparks|| Maincast : Yoona SNSD, Chanyeol EXO || Lenght : Chapter

Mengatakan bahwa pertunjukan itu sukses besar sebetulnya sama sekali tidak berlebihan. Para penonton tertawa dan menangis, dan itu memang yang diharapkan dari mereka. Namun suasananya benar-benar istimewa berkat kehadiran Yoona—dan aku merasa para pemain lain juga sama terkejutnya seperti aku melihat penampilannya. Mereka semua menampakkan reaksi yang sama seperti aku ketika pertama kali melihatnya. Hal itu membuat seluruh pertunjukan semakin mantap di saat mereka memainkan perang masing-masing. Kami menyelesaikan pertunjukan pertama tanpa satu kendala pun, dan pada malam berikutnya malah lebih banyak lagi penonton yang datang. Bahkan Kai menghampiriku seusai pertunjukan untuk memberi selamat padaku, yang merupakan kejutan setelah apa yang dikatakannya padaku sebelumnya.

“Kalian berdua bermain bagus,” kata Kai apa adanya. “Aku bangga padamu, sobat.”
Sementara ia mengatakan itu, Yuri ssam menyerukan, “Luar biasa!” kepada semua orang
yang mau mendengar atau yang kebetulan lewat. Ia mengatakannya berulang-ulang, sampai kata itu masih terngiang-ngiang di telingaku setelah aku berbaring di tempat tidurku malam itu. Aku mencari Yoona setelah layar diturunkan untuk terakhir kali, dan melihatnya di pojok bersama ayahnya. Baekhyun tampak berlinang air mata—baru pertama kali itulah aku melihatnya menangis—Yoona berada dalam pelukannya, dan mereka berangkulan selama beberapa saat. Baekhyun membelai-belai rambut putrinya sambil berbisik, “Malaikatku,” sementara Yoona memejamkan matanya. Aku bahkan merasa tenggorokanku tercekat.
Aku menyadari bahwa melakukan “sesuatu yang benar” sebetulnya bukan sesuatu yang
buruk.
Setelah mereka akhirnya saling melepaskan pelukan, dengan bangga Baekhyun mengingatkan Yoona untuk menemui para pemain lainnya. Yoona juga memperoleh banyak ucapan selamat dari semua yang berada di belakang layar. Yoona tahu ia telah bermain dengan baik, namun ia masih terus mengatakan pada semua orang bahwa ia tidak mengerti apa yang sebetulnya perlu diributkan. Seperti biasa wajahnya menampakkan keceriaan, tapi dengan penampilannya yang begitu cantik, kesannya menjadi berbeda. Aku berdiri di belakang, membiarkan dirinya menikmati momen itu. Aku bahkan harus mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang merasa seperti si tua Baekhyun. Mau tidak mau aku merasa bahagia melihat Yoona, dan juga bangga. Ketika akhirnya ia melihatku berdiri sendirian, Yoona meminta diri lalu berjalan menghampiriku.
Ia menengadahkan wajahnya sambil tersenyum. “Terima kasih, Chanyeol, atas apa yang telah kaulakukan. Kau membuat ayahku bahagia sekali.”
“Sama-sama,” sahutku tulus.
Anehnya adalah, ketika ia mengatakan itu, aku menyadari bahwa ia akan pulang ke
rumahnya diantar Baekhyun. Untuk sekali ini aku berharap bisa punya kesempatan untuk menemaninya pulang berjalan kaki.
Hari Senin berikutnya merupakan minggu terakhir kami di sekolah sebelum Liburan Natal, dan semua kelas akan menghadapi ujian akhir. Selain itu, aku harus menyelesaikan formulir pendaftaranku untuk masuk UNC, yang selama ini tertunda gara-gara semua latihan itu. Aku sudah berencana untuk belajar keras minggu itu, kemudian membereskan tugasku untuk pendaftaran UNC pada malam hari sebelum aku tidur. Meskipun demikian, mau tidak mau aku terus teringat pada Yoona.
Transformasi yang terjadi pada diri Yoona saat pementasan itu sangat menakjubkan, dan aku menganggap hal itu menandakan perubahan dalam dirinya. Aku tidak tahu mengapa aku berpikiran seperti itu, namun itulah yang terjadi. Aku jadi tercengang ketika ia muncul pada pagi pertama itu dengan penampilannya yang lama: sweter cokelat, rambut diikat ke atas, rok kotak-kotak, dan seterusnya.
Hanya dengan sekali lihat, mau tidak mau aku merasa kasihan padanya. Ia baru saja dianggap normal—bahkan istimewa—selama akhir pekan, atau setidaknya memberi kesan semacam itu, tapi entah mengapa Yoona membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Oh, orang-orang memang jadi lebih ramah padanya, dan mereka yang selama ini tidak pernah berbicara padanya juga ikut memuji penampilannya. Namun aku bisa langsung melihat bahwa semua ini tidak akan berlangsung selamanya. Sikap yang sudah terbentuk sejak masa kanak-kanak memang sulit diubah, dan sebagian dari diriku bertanya-tanya apakah situasinya bisa lebih buruk lagi bagi Yoona setelah ini. Kini setelah semua orang tahu bahwa ia dapat tampil normal, mereka mungkin akan bersikap lebih kejam lagi.
Ingin rasanya aku menyatakan pendapatku padanya, sungguh, namun aku berencana untuk melakukannya setelah minggu itu berakhir. Tidak hanya karena banyak yang masih harus kukerjakan, tapi aku juga ingin punya sedikit waktu untuk memikirkan cara terbaik untuk mengatakannya pada Yoona. Sejujurnya, aku masih agak merasa bersalah atas segala yang pernah kukatakan padanya sewaktu mengantarnya pulang terakhir kali, dan itu bukan hanya karena pementasan berlangsung sukse. Rasa bersalah ini muncul lebih dikarenakan oleh kenyataan bahwa selama kami saling mengenal, Yoona selalu bersikap baik, dan aku tahu bahwa akulah yang bersalah.
Sejujurnya, kupikir ia tidak ingin berbicara denganku. Aku tahu Yoona bisa melihatku berkumpul bersama teman-temanku saat istirahat makan siang sementara ia duduk sendirian, membaca Alkitab, namun tidak pernah sekali pun ia menghampiri kami. Tetapi saat aku akan meninggalkan sekolah pada hari itu, aku mendengar suaranya di belakangku, menanyakan apakah aku tidak keberatan menemaninya pulang. Meskipun aku merasa belum siap untuk menyatakan pendapatku padanya, aku bersedia menemaninya. Demi masa lalu, kupikir.
Beberapa saat kemudian Yoona langsung menuju pokok pembicaraannya.
“Kau ingat apa yang kaukatakan sewaktu terakhir kalikau mengantarku pulang?” tanyanya.
Aku mengangguk, sambil berharap ia tidak mengungkit-ungkit itu lagi.
“Kau berjanji untuk menebusnya,” ujar Yoona.
Untuk sesaat aku bingung. Aku merasa sudah menebus kesalahanku dengan penampilanku dalam pementasan itu. Yoona melanjutkan.
“Aku sudah memikirkan apa yang bisa kaulakukan,” lanjutnya tanpa memberikan kesempatan padaku untuk memotong, “dan inilah yang terlintas dalam benakku.”
Ia bertanya apakah aku keberatan membantunya mengumpulkan botol-botol acar dan kaleng kopi yang sudah ia sebar di berbagai tempat usaha di seluruh pelosok kota sejak awal tahun. Ia meletakkannya di atas gerai penjualan, biasanya dekat kasir, supaya orang-orang dapat memasukkan uang receh ke dalamnya. Uangnya nanti disumbangkan untuk panti asuhan. Yoona tidak pernah mau meminta uang secara langsung untuk beramal, ia ingin mereka memberikannya secara sukarela. Menurut pendapatnya, itu adalah hal yang harus dilakukan oleh umat Kristen.

Seingatku aku pernah melihat berbagai wadah itu di tempat-tempat seperti Cecil’s Diner dan Crown Theater. Aku dan teman-temanku biasa memasukkan penjepit kertas dan logam-logam kecil ke dalam wadah-wadah itu di saat si kasir tidak melihat, mengingat suaranya mirip seperti koin yang dijatuhkan ke dalamnya. Sesudah itu kami akan cekikikan sendiri membayangkan reaksi Yoona. Kami sering membuat lelucon tentang bagaimana ia akan membuka salah satu kalengnya, dengan harapan akan menemukan jumlah yang membesarkan hati karena beratnya kaleng itu. Tapi saat mengeluarkan isi kalengnya ia tidak akan menemukan apa-apa selain logam dan penjepit kertas. Kadang-kadang, saat kau teringat berbagai hal yang pernah kaulakukan, hatimu akan menciut, dan itulah persisnya yang terjadi padaku di saat itu.
Yoona melihat ekspresi di wajahku.
“Kau tidak perlu melakukannya,” ujarnya, jelas-jelas tampak kecewa. “Aku cuma berpikir, karena Natal sudah dekat dan aku tidak punya mobil, aku tidak akan sempat mengumpulkan semua…”
“Tidak,” ujarku, memotong pembicaraannya. “Aku akan melakukannya. Lagi pula aku tidak begitu sibuk.”

Jadi itulah yang kulakukan mulai hari Rabu itu, meskipun aku masih harus belajar untuk menghadapi ujian dan menyelesaikan formulir pendaftaranku. Yoona telah memberikan padaku daftar tempat ia meletakkan wadah-wadahnya, dan dengan meminjam mobil ibuku, aku memulai dari pelosok kota yang paling jauh pada keesokan harinya. Ia telah menyebar sekitar enam puluh wadah, dan aku memperhitungkan bahwa aku hanya akan membutuhkan satu hari untuk mengumpulkan semua wadah itu. Dibandingkan dengan menyebarkannya, mengumpulkannya kembali akan menjadi pekerjaan mudah. Yoona sudah menghabiskan hampir enam minggu untuk itu karena pertama-tama ia harus mencari enam puluh botol dan kaleng, dan kemudian ia hanya dapat menempatkan dua atau tiga buah sehari mengingat bahwa ia tidak memiliki mobil dan hanya dapat membawa sebanyak itu dalam sekali jalan. Ketika aku memulai, aku merasa agak lucu karena harus mengumpulkan wadah-wadah itu, mengingat itu adalah proyek Yoona. Namun aku terus mengingatkan diriku bahwa Yoona-lah yang telah meminta tolong padaku.
Aku mampir dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk mengumpulkan wadah-wadah itu, dan menjelang akhir hari yang pertama aku menyadari bahwa aku akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari yang aku perkirakan. Aku baru berhasil mengumpulkan sekitar dua puluh wadah atau lebih, karena aku telah melupakan satu fakta yang sederhana dari kehidupan di Yeosu. Di kota kecil seperti ini, sulit rasanya untuk hanya sekadar masuk sebentar dan mengambil sebuah wadah tanpa berbincang-bincang dulu dengan pemilik tempat atau menyapa seseorang yang mungkin kaukenal. Memang tidak ada pilihan lain. Karena itulah aku terpaksa duduk di suatu tempat sementara seseorang akan mengajak bicara tentang ikan marlin yang berhasil ditangkapnya pada musim gugur lalu, atau mereka akan menanyakan padaku mengenai sekolahku dan menyinggung bahwa mereka membutuhkan seseorang untuk memindahkan beberapa dus di belakang, atau mungkin mereka menginginkan pendapatku apakah sebaiknya mereka menggeser rak majalan ke sisi lain di toko mereka. Yoona, setahuku, sangat hebat menghadapi hal semacam ini, dan aku mencoba untuk berlaku seperti yang kupikir akan dilakukan Yoona. Bagaimanapun ini adalah proyeknya.
Untuk mempersingkat waktu, aku tidak berhenti untuk memeriksa hasil yang aku peroleh
selama berada dalam perjalanan. Aku cuma menaruh botol demi botol atau kaleng itu dalam suatu tumpukan. Menjelang akhir hari pertama semua uang receh itu terkumpul dalam dua buah botol besar, yang aku bawa naik ke kamarku. Aku melihat beberapa lembaran uang kertas melalui kacanya—tidak terlalu banyak—namun aku tidak merasa terlalu berkecil hati sampai aku menuang isinya ke atas lantai dan melihat bahwa uang receh itu hanya terdiri dari pecahan satu sen. Meskipun jumlah logam dan penjepit kertasnya tidak sebanyak yang tadinya kuperkirakan, aku tetap saja kecewa setelah menghitung jumlah uang itu. Jumlahnya $20,32. Bahkan di tahun 1958 itu tidak banyak, terutama kalau harus dibagi di antara tiga puluh anak.
Namun aku belum merasa putus asa. Menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan, aku berangkat lagi pada hari berikutnya, mengangkut sekitar beberapa puluh dus karton, dan mengobrol dengan sekitar dua puluh pengusaha lainnya sambil mengumpulkan wadah-wadah yang ada. Hasilnya: $23,89.
Hari ketiga ternyata lebih menyedihkan lagi. Setelah menghitung uangnya, bahkan aku tidak dapat mempercayainya. Ternyata hanya $11,52. Asalnya dari tempat-tempat di sekitar tepi pantai, tempat para turis dan remaja sering berkumpul. Kami memang benar-benar luar biasa, pikirku dalam hati.
Melihat betapa sedikitnya yang terkumpul secara keseluruhan—$55,73—aku merasa tidak enak, terutama karena wadah-wadah itu sudah ada di sana selama hampir sepanjang tahun dan aku sendiri sudah melihatnya. Malam itu seharusnya aku menelepon Yoona untuk memberitahunya jumlah uang yang berhasil kukumpulkan, namun aku merasa tidak dapat melakukannya. Ia sudah mengatakan padaku betapa inginnya ia berbuat sesuatu yang istimewa tahun ini, dan ini tidak akan terwujud—bahkan aku mengetahui itu. Oleh karena itu aku berbohong padanya dengan mengatakan ahwa aku tidak akan menghitung jumlah uang yang terkumpul sampai kami berdua dapat melakukannya bersama, karena ini adalah proyeknya, bukan proyekku. Rasanya begitu mengecilkan hati. Aku berjanji untuk mengantarkan uang itu pada sore berikutnya, setelah pulang sekolah. Besok tanggal 21 Desember, hari yang terpendek dalam tahun itu. Hari Natal tinggal empat hari lagi.

“Chanyeol,” kata Yoona setelah menghitung jumlahnya, “ini benar-benar mukjizat!” “Berapa jumlahnya?” tanyaku. Aku tahu persis berapa jumlahnya.
“Hampir dua ratus lima puluh tujuh dolar!” Nadanya begitu antusias saat menengadahkan
wajahnya ke arahku. Karena Baekhyun ada di rumah, aku diperbolehkan berada di ruang tamu, dan di sanalah Yoona menghitung uangnya. Semuanya tersusun dalam tumpukan-tumpukan kecil yang rapi di seluruh permukaan lantai, hampir seluruhnya terdiri atas kepingan dua puluh lima sen dan sepuluh sen. Baekhyun sedang duduk di meja dapur, menyusun khotbahnya, dan bahkan Baekhyun ikut menoleh ketika mendengar suara Yoona.
“Menurutmu itu cukup?” tanyaku polos.
Air matanya berlinang di pipinya saat ia melayangkan pandangannya ke seputar ruangan itu, seakan masih belum mempercayai apa yang ia lihat di hadapannya. Bahkan setelah pementasan itu, Yoona belum pernah tampak sebahagia ini. Ia menatap aku lekat-lekat.
“Ini… benar-benar luar biasa,” ujarnya, sambil tersenyum. Nadanya lebih emosional
daripada biasanya. “Tahun lalu, aku cuma berhasil mengumpulkan tujuh puluh dolar.”
“Aku senang hasil tahun ini lebih baik,” ujarku dengan tenggorokan yang tercekat. “Kalau
kau tidak menyebar wadah-wadahmu lebih awal tahun ini, kau mungkin tidak akan mendapatkan sebanyak itu.”
Aku tahu bahwa ucapanku tidak benar, namun aku tidak peduli. Untuk sekali ini, aku melakukan sesuatu yang benar.

Aku tidak membantu Yoona memilihkan mainan-mainan itu—kurasa ia lebih tahu apa yang diinginkan oleh anak-anak itu—namun ia tetap memintaku ikut bersamanya ke panti asuhan itu pada Malam Natal agar aku juga bisa ada di sana sewaktu anak-anak itu membuka hadiah-hadiah mereka. “Ayolah, Chanyeol,” bujuknya ketika itu, dan melihat Yoona begitu antusias, aku merasa tidak tega untuk mengecewakannya.
Tiga hari kemudian, saat ayah dan ibuku sedang menghadiri pesta di rumah wali kota, aku
mengenakan jas bercorak houndstooth dan dasiku yang terbaik lalu berjalan menuju mobil ibuku dengan mengepit hadiah untuk Yoona. Aku telah menghabiskan sisa uangku untuk membelikannya sweter yang bagus, karena hanya itulah yang terpikir olehku. Yoona memang bukan tipe yang mudah untuk dibelikan sesuatu.
Aku seharusnya berada di panti asuhan itu pada pukul 19.00, namun jematan di dekat dermaga Morehead City sedang diangkat, dan aku harus menunggu sampai kapal pengangkut barang perlahan-lahan lewat di bawahnya. Akibatnya, aku tiba terlambat beberapa menit. Pintu depannya sudah dikunci saat itu, dan aku terpaksa menggedornya sampai Mr. Jenkins akhirnya mendengar gedoranku. Ia mencari-cari kunci yang tepat di antara rencengannya, dan tak lama setelah itu membuka pintunya. Aku masuk sambil menepuk-nepuk lenganku untuk mengusir dingin.
“Ah… kau sudah datang,” tegurnya senang. “Kami sedang menantimu. Ayo, mari kita ke
tempat mereka berkumpul.”
Ia mengajakku melewati lorong menuju ruang rekreasi, ke tempat yang sama yang pernah
kumasuki sebelumnya. Aku berhenti sebentar untuk menarik napasku dalam-dalam sebelum akhirnya melangkah masuk.
Suasananya ternyata lebih baik daripada yang tadinya kubayangkan.
Di tengah-tengah ruangan itu aku melihat sebuah pohon yang besar, didekorasi dengan
kertas mengilap dan lampu-lampu berwarna serta ratusan ornamen buatan tangan. Di bawah pohon, tersebar ke seluruh penjuru, tampak hadiah-hadiah yang dibungkus dalam berbagai ukuran dan bentuk. Tumpukannya tinggi, dan anak-anak itu sedang duduk di lantai, berdekatan membentuk setengah lingkaran yang besar. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka—yang laki-laki memakai celana panjang biru laut dan kemeja putih berkerah, sementara yang perempuan memakai rok biru laut dan blus putih berlengan panjang. Mereka semua tampak seperti habis didandani untuk menyambut peristiwa besar ini, dan hampir semua anak laki-laki rambutnya baru dicukur.
Di atas meja di dekat pintu, terdapat sebuah wadah berisi minuman dan piring-piring dengan kue yang dibentuk seperti pohon Natal dan dihiasi dengan gula berwarna hijau. Aku bisa melihat beberapa orang dewasa yang duduk di antara anak-anak; beberapa anak yang lebih kecil duduk di atas pangkuan anak-anak yang lebih dewasa, wajah-wajah mereka penuh dengan antisipasi sementara mereka mendengar lagu Twas the Night Before Christmas.
Namun aku tidak melihat Yoona, setidaknya aku tidak langsung melihatnya. Aku mendengar suaranya lebih dulu. Ia sedang membacakan sebuah cerita, dan akhirnya aku melihatnya. Ia sedang duduk di lantai di depan pohon Natal dengan kaki terlipat.
Di luar dugaanku, aku melihat rambutnya dibiarkan tergerai, persis seperti malam pementasan itu. Dan ia tidak mengenakan sweter cokelat tuanya, melainkan sweter merah
berleher V yang entah bagaimana memberi aksen pada warna matanya yang biru muda. Bahkan tanpa glitter di rambutnya atau gaunnya yang putih panjang menjuntai, ia tampak memesona.

Tanpa sadar aku menahan napas, dan dari sudut mataku aku bisa melihat Mr. Jenkins tersenyum ke arahku. Aku mengembuskan napas dan tersenyum, sambil berusaha memulihkan kendali diriku.
Yoona hanya berhenti sebentar untuk mengangkat wajahnya. Ia melihatku berdiri di ambang pintu, kemudian kembali membaca untuk anak-anak itu. Cerita yang dibacakannya baru selesai beberapa menit kemudian, setelah itu ia berdiri dan merapikan roknya lalu berjalan mengitari anak-anak itu untuk menghampiriku. Aku tetap berdiri di tempatku karena tidak tahu harus melangkah ke mana.
Sementara itu diam-diam Mr. Jenkins menyelinap pergi.
“Maaf, kami mulai tanpa menunggumu,” ujar Yoona ketika ia akhirnya tiba di dekatku, “tapi anak-anak itu sudah tidak sabar lagi.”
“Tak apa-apa,” sahutku, sambil tersenyum, mengagumi penampilannya.
“Aku senang sekali kau bisa datang.” “Aku juga.”
Yoona tersenyum dan meraih tanganku untuk membimbingku. “Ayo, ikut,” ajaknya. “Bantu aku membagikan hadiah-hadiah ini.”
Kami melewatkan satu jam berikutnya dengan membagikan hadiah-hadiah, dan kami mengawasi sementara anak-anak itu membuka hadiah mereka satu per satu. Yoona telah menjelajahi seluruh penjuru kota untuk berbelanja, memilih beberapa hadiah untuk setiap anak, hadiah-hadiah pribadi yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Namun hadiah-hadiah yang dibeli Yoona bukan satu-satunya yang diterima anak-anak itu—pihak panti asuhan maupun mereka yang bekerja di sana juga membelikan sesuatu untuk mereka. Kertas-kertas kado dilemparkan ke sana kemari dalam suasana yang semakin riang, pekikan-pekikan kegembiraan terdengar di mana-mana. Bagiku, paling tidak, anak-anak itu telah menerima sesuatu yang jauh melebihi yang mereka harapkan, dan mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Yoona.
Pada saat suasana gempita itu akhirnya mereda dan hadiah untuk semua anak sudah dibuka,
suasananya mulai menjadi lebih tenang. Ruangan itu dirapikan oleh Mr. Jenkins dan seorang wanita yang belum pernah kulihat, dan beberapa anak yang lebih kecil mulai tertidur di ba wah pohon. Beberapa anak yang lebih besar sudah kembali ke kamar tanpa lupa membawa hadiah mereka, dan mereka telah meredupkan penerangan saat berjalan ke luar. Lampu-lampu pohon Natal tampak bersinar indah sementara lagu Silent Night melantun pelan dari sebuah gramofon. Aku masih duduk di lantai dekat Yoona, yang sedang memangku seorang gadis kecil yang tertidur. Karena suasana yang riuh tadi, kami belum sempat mengobrol, bukan berarti kami mempermasalahkan keriuhan itu. Kami berdua memandangi lampu-lampu pohon Natal, dan aku bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiran Yoona. Sejujurnya, aku tidak tahu, namun tatapannya terkesan begitu lembut. Kurasa—tidak, aku yakin—Yoona merasa senang melihat hasil malam ini, dan jauh di lubuk hatiku aku juga merasa senang. Sampai sekarang itu merupakan Malam Natal terbaik yang pernah kualami.
Aku melirik ke arahnya. Dengan cahaya lampu yang menyinari wajahnya, ia tampak sama cantiknya dengan setiap orang yang pernah kulihat.
“Aku membelikan sesuatu untukmu,” kataku akhirnya. “Membelikan hadiah, maksudku.” Aku berbicara pelan agar tidak membangunkan gadis kecil yang tidur di pangkuannya, dan kuharap itu bisa menyembunyikan kecemasan dalam suaraku.
Ia mengalihkan pandangannya dari pohon itu ke wajahku, sambil tersenyum lembut. “Kau
tidak perlu membelikanku sesuatu.” Ia juga merendahkan suaranya, dan suaranya terdengar seperti musik di telingaku.

“Aku tahu,” sahutku, “tapi aku mau.” Aku telah menyisihkan hadiah itu di satu sisi, dan
menyerahkan bingkisan yang sudah dibungkus kertas kado itu padanya.
“Bisakah kau membukanya untukku? Tanganku sedang sedikitpenuh saat ini.” Ia menatap si gadis kecil, kemudian menatap kembali ke arahku.
“Kau tidak perlu membukanya sekarang, kalau kau sedang tidak bisa,” ujarku, sambil
mengangkat bahu, “sebetulnya isinya tidak seberapa.”
“Jangan begitu,” ujarnya. “Aku hanya ingin membukanya di hadapanmu.”
Untuk menjernihkan pikiranku, aku menatap hadiah itu, dan mulai membukanya, dengan
menarik selotipnya sedemikian rupa agar tidak menimbulkan banyak suara, kemudian melepaskan kertas kadonya dan sampai pada dusnya. Setelah menyisihkan kertas pembungkusnya, aku mengangkat tutup dus itu dan mengeluarkan sweternya, yang aku angkat untuk diperlihatkan kepadanya. Warnanya cokelat, seperti yang biasa dipakainya. Namun kupikir Yoona membutuhkan sweter baru.
Dibandingkan dengan kegembiraan yang baru kusaksikan sebelumnya, aku tidak
mengharapkan reaksi berlebihan.
“Lihat, cuma ini. Aku sudah bilang tadi isinya tidak seberapa,” ujarku. Aku berharap ia tidak kecewa menerimanya.
“Bagus sekali, Chanyeol,” ujarnya tulus. “Aku akan memakainya saat bertemu denganmu lagi. Terima kasih.”
Kami duduk diam selama beberapa saat, dan aku kembali memandangi lampu-lampu di
pohon Natal.
“Aku juga membawa sesuatu untukmu,” bisik Yoona akhirnya. Ia melayangkan pandangan ke arah pohon, dan aku mengikuti pandangannya. Hadiahnya masih tergeletak di bawah pohon, agak tersembunyi di balik batang pohon itu, dan aku meraihnya. Bentuknya persegi, lentur, dan agak berat. Aku meletakkannya di atas pangkuanku dan membiarkannya di sana tanpa berusaha untuk membukanya.
“Bukalah,” ujarnya, sambil menatapku.
“Kau tidak bisa memberikan ini kepadaku,” ujarku dengan napas terkecat. Aku sudah tahu
apa isinya, dan aku tidak mempercayai apa yang telah dilakukan Yoona. Tanganku mulai bergetar.
“Please,” ujarnya padaku dalam suara yang teramat lembut, “bukalah. Aku ingin kau memilikinya.”
Dengan ragu aku membuka bungkusnya perlahan-lahan. Ketika kertas kadonya akhirnya lepas, aku memegang hadiah itu dengan hati-hati, takut merusaknya. Aku menatapnya, dengan penuh emosi, dan perlahan-lahan tanganku mengusap bagian atasnya, menelusuri sampul kulitnya yang sudah mulai usang sementara air mataku mulai mengambang. Yoona mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tanganku. Rasanya hangat dan lembut.
Aku melirik ke arahnya, tak tahu harus berkata apa.
Yoona telah memberikan Alkitab-nya kepadaku.
“Terima kasih atas apa yang telah kaulakukan,” bisiknya padaku. “Ini merupakan Natal
terbaik yang pernah kualami.”
Aku berpaling tanpa menjawab dan mengulurkan tanganku ke arah aku meletakkan gelasku sebelumnya. Lagu Silent Night masih terdengar, musiknya memenuhi seluruh ruangan. Aku meneguk minumanku, sambil mencoba meredakan rasa kering yang tiba-tiba terasa di tenggorokanku. Ketika aku minum, saat-saat yang kuhabiskan bersama Yoona kembali melintas dalam benakku. Aku teringat pesta dansa homecoming itu dan apa yang telah ia lakukan untukku pada malam itu. Aku teringat pertunjukan itu dan betapa cantik penampilannya ketika itu. Aku teringat saat-saat aku mengantarnya pulang dan bagaimana aku membantunya mengumpulkan botol dan kaleng-kaleng yang diisi kepingan uang receh untuk panti asuhan itu.
Saat semua bayangan ini melintas dalam benakku, aku tiba-tiba terenyak. Aku menatap
Yoona, kemudian ke arah langit-langit dan seisi ruangan itu, sambil mencoba menguasai emosiku sebaik mungkin, dan setelah itu aku kembali menatap Yoona. Ia sedang tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya. Pada saat itu aku cuma bisa bertanya-tanya dalam hati bagaimana aku bisa sampai jatuh cinta pada seorang gadis seperti Im Yoona.

TBC ~~~
ini bakal jadi cerita yang panjang jadi ada beberapa chapter yang bakal aku password ^^
kalau mau tau password bisa langsung klik disini

gamsaa ^^~~

One thought on “A Walk To REMEMBER [CHAPTER 9]

Give me your feedback ♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s