Sweet Seventeen


Untitled-1

Tittle : Sweet Seventeen || Maincast : Yoona SNSD, G- Dragon Big Bang || Genre : love, romance, Family || Length :oneshoot || Rating : G

Mungkin semua manusia yang ada di muka bumi ini ingin menjadi dewasa dengan badan yang tinggi dan bisa dikatakan proposional namun tidak dengan yoona, seorang malaikat kecil nan lucu yang memiliki penyakit langka di dunia ini yaitu abulticesta. penyakit yang menyebabkan penderitanya tidak dapat terkena sinar matahari dan semakin penderitanya tumbuh dewasa maka semakin kecil kemungkinan ia bertahan hidup. ia tidak ingin tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik jelita karena jika ia tumbuh menjadi wanita dewasa ia akan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya .
yoona hanyalah seorang anak kecil yang ingin bermain dengan teman sebayanya, tertawa bahagia,ceria bersama dan lain sebagainya . namun semua itu tidak dapat ia lakukan mengingat kondisinya yang sangat lemah .
namun bagaimanapun keadaan yoona ia masih memiliki seorang sahabat yang selalu bermain bersama dengannya . sahabatnya itu bernama kwon jiyong .
setiap harinya jiyong akan datang ke rumah yoona untuk bermain bersama . umur mereka tidak terlalu terpaut jauh , yoona yang berumur 5 tahun dan jiyong yang berumur 8 tahun .
jiyong sangat menyayangi yoona seperti adik kandungnya sendiri, jika yoona tersakiti maka jiyong akan merasakan sakit berkali-kali lipat melebihi yoona .
hari demi hari berlalu kini yoona sudah masuk ke bangku SMP dan jiyong duduk di bangku SMA. yoona memang masuk ke sekolah umum namun dengan penjagaan super ketat oleh orang tuanya . awalnya yoona dilarang masuk ke sekolah umum karena akan membahayakan kesehatannya namun yoona bersi keras memohon kepada orang tuanya agar ia bisa masuk ke sekolah umum karena dia ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk menjadi manusia normal pada umumnya.
“siapa yang bisa mengerjakan soal di papan tulis ?” tanya kim sam pada murid-muridnya.
“saya sam” jawab yoona mengacungkan tangannya.
“ya yoona silahkan kerjakan soal di papan tulis” kim sam memberikan spidolnya pada yoona
saat yoona hendak maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan yoona jatuh pingsan dan mengeluarkan darah segar dari hidungnya yang membuat appa yang menunggunya dari luar kelas kaget dan langsung masuk kelas dan menggendong yoona untuk dibawa ke rumah sakit. di lain tempat jiyong yang sedang berada di kelasnya merasakan sakit pada hatinya, perasaannya tidak enak dengan yoona sehingga ia buru-buru menelpon yoona namun tidak ada jawaban, karena beberapa kali tidak mendapat jawaban maka jiyong pun menelpon appa yoona lalu appa yoona menjawab telpnya dan mengatakan bahwa yoona sedang di perjalanan ke rumah sakit. karena kaget jiyong permisi kepada gurunya untuk izin keluar kelasnya dan jiyong langsung terburu-buru mengambil mobilnya dan pergi ke rumah sakit.
sesampainya di rumah sakit jiyong melihat appa yoona mondar mandir di depan pintu gawat darurat dengan wajah yang pucat pasih dan eomma yoona yang duduk di kursi tunggu sambil melipat kedua tangannya sambil. emanjatkan doa untuk keselamatan yoona.
“aboji bagaimana keadaan yoona ?” kedua tangan jiyong memegang tangan appa yoona
” daritadi dokter belum juga keluar dari ruangannya, aku tidak tau bagaimana keadaan yoona sekarang. aku bukanlah appa yang baik untuknya aku tidak bisa menjaganya” appa yoona menangis meratapi keadaan anaknya sekarang.
” tidak aboji, kau jangan berkata seperti itu yoona sangat menyayangimu dia selalu berterima kasih kepada Tuhan karena bisa memiliki orang tua seperti kalian” kata jiyong menenangkan appa dan eomma yoona.
tiba-tiba dokter pun keluar dari dalam ruangan dan mengatakan kalau yoona jatuh pingsan karena terkena sinar matahari sehingga tubuhnya merespon negatif.
setelah mendengarkan penjelasan dari dokter jiyong dan orang tua yoona pun masuk ke dalam ruangan yoona.
“appa eomma” kata yoona dengan suara lemah dengan selang infus yang ada di hidungnya.
“maafkan appa tidak bisa menjagamu, appa memang bukan appa yang baik untukmu” kata appa yoona berlinang air mata
“tidak appa, aku yang salah aku yang tidak hati-hati dan aku tidak menjaga kondisiku dengan baik. maafkan aku” jawab yoona memegang tangan appa
“bagaimana kondisimu sekarang sayang ? apa kau masih merasakan sakit ? jika kau masih merasa sakit katakanlah” kata eomma memegang pipi yoona
“tidak eomma, aku sudah merasa baikan sekarang” yoona tersenyum
“baiklah eomma akan buatkan bubur yang enak untukmupasti kau sudah lapar kan” kata eomma menyeka air matanya dan mencoba untuk tersenyum di depan yoona.
“ne eomma aku sangat lapar sekarang . appa temanilh eomma. aku akan disini bersama jiyong oppa” kata yoona tersenyum
“baiklah appa akan kesini secepatnya. oh iya jiyong-ah aku titip yoona ya” aboji memegang bahu jiyong
“ne aboji” jiyong tersenyum
lalu orang tua yoona pun keluar dari ruangan yoona. setelah orang tua yoona keluar jiyong menatap tajam mata yoona.
“iya aku tau aku salah maafkan aku oppa” kata yoona memegang tangan jiyong
“apa kau tau orang tuamu sangat khawatir tadi dengan kondisimu ?”
“iya aku salah. tapi apa cuma orangtuaku yang khawatir padaku ? apa oppa tidak khawatir denganku ?” kata yoona menggoda jiyong
” untuk apa aku khawatirkan cewe bandel sepertimu” teriak jiyong
“benarkah ? aku sangat sedih kau tidak mengkhawatirkanku” yoona memalingkan matanya dari jiyong
” aku tidak akan tertipu lagi denganmu” teriak jiyong lagi.
beberapa menit tidak ada suara di ruangan itu. lalu jiyongpun duduk di kursi di samping yoona dan memeluk punggung yoona dari belakang dan menempelkan kepalanya di kepala yoona
“apa kau tau aku sangat takut jika terjadi sesuatu sama orang bodoh sepertimu ?” kata jiyong dengan lembut
“ne oppa aku tau kau sangat takut kehilangan aku” jawab yoona tertawa.
“sebodoh-bodohnya kau ternyata aku lebih bodoh bisa sayang pada orang bodoh sepertimu” kata jiyong sedikit tertawa.
“apa kau akan terus memelukku seperti ini ?” apa kau tau karena otakmu yang besar kepalamu sangat berat jadinya” kata yoona melepaskan pelukan jiyong.
“tapi oppa bukannya sekarang kau seharusnya ada di sekolah ? kenapa kau bisa disini ?” lanjut yoona
“tadi aku izin dengan guruku karena dengar kabar kau dibawa ke rumah sakit, ini semua karena kau tidak perhatikan kesehatanmu. jika saja kau perhatikan kesehatanmu pasti aku tidak akan disini”
“yayaya aku salah lagi, lain kali jika aku sakit aku akan menyuruh appa atau eomma agar tidak menghubungimu lagi” kata yoona senyum
“ya! apa kau mau mati !!” kata jiyong berkacak pinggang.
yoona terdiam sejenak memandang jiyong “aku ingin hidup, aku ingin tetap di dunia ini bersama dengan appa dan eomma” yoona meneteskan air matanya.
“tapi aku tau itu sangat mustahil dengan kondisiku yang sangat lemah seperti ini” kata yoona tersenyum kecil
jiyong menurunkan kedua tangannya dari pinggangnya dan perlahan duduk di kursi di samping yoona dan memegang pipi yoona “kau akan sembuh, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku, aku akan menjagamu apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu”
“gomawo oppa” kata yoona memegang tangan jiyong yang berada di pipinya.
—–
hari demi hari terasa sangat cepat bagi yoona dan sudah seminggu dia dirawat di rumah sakit dan akhirnya dia diizinkan untuk keluar dari rumah sakit.
“akhirnya aku keluar juga dari kamar ini, rasanya sangat membosankan” kata yoona saat berjalan keluar dari kamar inapnya
“makanya jika kau tidak mau ke kamar ini lagi jagalah kesehatanmu” kata jiyong mengelus kepala yoona
“baiklah aboji” kata yoona sambil menghormat kepada jiyong.
“ya sudah ayo cepat pulang eomma dan appa mu sudah menunggumu di rumah” kata jiyong merangkul yoona
“ne” senyum yoona
—–
sesampainya di rumah yoona, appa dan eomma yoona menyambut yoona dengan senyum bahagia. selain appa dan eomma yoona ternyata appa dan eomma jiyong juga datang untuk pesta penyambutan untuk yoona.
“appa eomma kalian juga datang kemari” kata jiyong tidak percaya
“iya appa dan eomma juga ingin ikut berpartisipasi dalam pesta penyambutan yoona” kata appa jiyong tersenyum
“karena kami juga sudah menganggap yoona sebagai anak kami sendiri” lanjut eomma jiyong.
“baiklah. apa kita akan memainkan drama kesedihan sekarang ? bisakah kita melakukannya nanti setelah kita makan ? aku sangat lapar” kata jiyong memegang perutnya yang sudah keroncongan
“iya ayo kita makan” kata eomma yoona mempersilahkan semuanya untuk duduk di meja makan.
semua orang menyayangi yoona selain karena memang kasihan dengan kondisi yoona yang lemah juga karena yoona adalah seorang wanita yang manis, ceria, baik dan ramah.
——
hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu kini yoona sudah memasuki bangku SMA kelas 3 . merupakan sebuah keajaiban yoona yang memiliki penyakit abulticesta bisa bertahan di umurnya yang sudah menginjak 17 tahun. bagi dunia medis ini sangatlah tidak mungkin, ini hanya terjadi bagi 1 penderita dari 100 sampel. dan yoona bisa dikatakan adalah orang yang beruntung. namun bagaimanapun juga yoona masih takut untuk tumbuh dewasa karena semakin dia dewasa semakin besar ketakutannya untuk mati.
mendekat hari menuju ujian nasional kondisi yoona tiba-tiba saja memburuk. lalu ia harus dirawat di rumah sakit. pada hari ujian nasional yoona ingin ikut serta dalam ujian tersebut, namun orang tua yoona tidak mengizinkannya lalu dengan lirih dan berlinng air mata yoona berkata “setidaknya jika waktuku telah habis sekarang aku bisa memberikan yang terbaik hari ini. aku ingin menjadi yang terbaik untuk ujian kali ini aku ingin ada namaku di urutan pertama saat hasil nilai ujian keluar nanti aku ingin namaku diingat sebagai siswa terbaik. aku mohon appa eomma aku hanya ingin melakukan ini sekali saja setelah ini aku tidak akan pernah melanggar larangan kalian aku akan mematuhi semua perkataan kalian”
karena keinginan kuat dari yoona akhirnya orang tua yoona mengizinkan yoona untuk mengikuti ujian. akhirnya yoona, jiyong dan kedua orang tua yoona pergi ke sekolah yoona.
sesampainya di sekolah yoona cuaca disana sangat terik . pancaran sinar matahari menerangi lokasi yoona sekolah , dengan gigih jiyong membuka jaket panjangnya yang ia kenakan dan menutup semua tubuh yoona dan mengangkat yoona dan berlari menuju ruang kelas yoona ujian, saat yoona melihat kegigihan jiyong air matanya tak berhenti mengalir memandangi wajah jiyong yang sedang mengangkatnya. higga akhirnya yoona masuk ke dalam ruang ujian dan ujianpun akhirnya dimulai. saat ujian dimulai jiyong dan orang tua yoona menunggu dan memperhatikan yoona dari luar jendela kelas yoona .
badan yoona dipenuhi dengan keringat dan sedikit demi sedikit darah segar mengalir di hidungnya kondisi yoona sangat memprihatinkan namun yoona tidak mau menyerah . melihat yoona seperti ini membuat orang tua yoona dan jiyong terpukul, mereka tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. semua orang yang berada di kelas itu juga merasakan kesedihan yang sama dengan jiyong dan orang tua yoona.
setiap tetes darah yang keluar dari hidungnya dihupusnya dengan tangannya sehingga tangannya penuh dengan darah dan beberapa tetes mengenai lembar ujiannya . dan di pertengahan ujian akhirnya yoona berhenti dan hingga akhirnya pingsan di mejanya. appa yoona yang melihat itu berlari memasuki kelas dan mengangkat yoona memsuki mobil untuk menuju rumah sakit.
sepanjang perjalanan jiyong dan orang tua yoona menangis , ketika sampai di rumah sakit yoona langsung dibawa ke UGD. dokter mengatakan kondisi yoona sangat buruk sekarang.
beberapa hari tidak sadarkan diri akhirnya yoona terbangun dari tidur panjangnya. ia melihat semua orang yang sangat ia sayangi menunggunya bangun dari orang tuanya, jiyong dan juga orang tua jiyong . semua orang merasakan sedih yang sangat mendalam .
“aku baik-baik saja” kata yoona dari mulutnya yang ditutupi masker oksigen.
“ya appa tau kau baik-baik saja, appa tau putri appa adalah seorang wanita yang sangat kuat” kata appa yoona menangis.
“ya! kau menangis sekarang ?” kata yoona pada jiyong
“bukankah aku sudah bilang padamu aku tidak akan pernah kasihan pada orang sepertimu. mataku sangat sakit berada di ruangan ini jadi aku mengeluarkan air mata. ya!! perih sekali, aku harus keluar dari ruangan ini”
akhirnya jiyong keluar dari ruangan yoona dengan perasaan yng sangat hancur. jiyong menangis sejadi-jadinya di luar ruangan yoona , hatinya sangat sakit melihat kondisi yoona .
setelah kondisi yoona sedikit membaik yoona minta satu permintaan terakhir untuk pergi ke taman fuyuga sebuah taman yang sepi namun sangat indah. di sana ada danau yang mengalir dengan sangat tenang ditemani dengan pohon-pohon rindang yang sangat menyejukan.
yoona sangat ingin kesana bersama jiyong. atas izin dari orang tua yoona akhirnya jiyong dan yoona pun pergi ke taman fuyuga.
sesampainya disana yoona dan jiyong duduk di sebuah kursi panjang di depan danau , udaranya sangat segar serta hembusan angin yang menyentuh kulit yoona dapat memberinya kesejukan .
“apa yang sangat kau takutkan sekarang ?” tanya jiyong
“aku takut jika aku harus menerima kenyataan bahwa aku telah pergi dari sisi orang-orang yang sangat aku sayangi . orang tuaku, orang tuamu dan juga kau” jawab yoona tersenyum pada jiyong
“apa kau takut mati ?” lnjut jiyong
“tidak sama sekali, aku hanya takut kehilangan” jawab yoona meneteskan air matanya.
“aku sangat menyayangimu, aku mencintaimu. jujur aku katakan aku tidak bisa hidup tanpamu. aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti jika kau tidak lagi disisiku . aku takut.. aku sangat takut” kata jiyong menangis di bahu yoona
“apa kau tau aku juga takut jika di surga nanti tidak akan ada lagi yang menjagaku sama sepertimu yang setia menunggu aku jika aku sedang dirawat di rumah sakit, yang selalu menjagaku ketika aku membutuhkan dan yang merasakan sakit berkali-kali lipat melebihi sakit yang ku rasakan. aku sangat mencintaimu oppa, sangat mencintaimu” kata yoona memegang kedua pipi jiyong.
“tetaplah selalu disisiku jika takdir kita tidak untuk bersama. meskipun nanti kau telah pergi meninggalkan aku ingatlah aku tidak akan pernah melupakanmu. tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu di hatiku, hanya kau yang bisa bukan orang lain” kata jiyong mencium lembut bibir yoona dan memeluk yoona dengan erat .
dan pada saatnya yoona meninggal di pelukan orang yang sangat ia cintai. cinta tidak hanya berasal dari perkataan ‘aku mencintaimu’, tetapi juga dari tindakan yang kita berikan kepada orang yang kita cintai dengan tulus. itulah arti cinta yang sesungguhnya.
Dan begitulah akhir hidupku di umurku yang ke-17
-THE END-

4 thoughts on “Sweet Seventeen

Give me your feedback ♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s