Meaningful [Oneshot]


req-junshihye

Meaningful

By Junsihye

Irene (Red Velvet), Yeri (Red Velvet), Seok Jin (BTS), Jungkook (BTS)

Friendship, Family, Romance | Oneshot | PG-13

Credit poster : LAYKIM @ IFA

©2015 Junsihye

“Hoam….”

Irene menggeliat setelah beberapa detik terbangun dari tidurnya. Matahari bersinar sangat terang hari ini. Gadis itu masih ada di atas tempat tidur yang berantakan. Seprai yang semula rapi sekarang menjadi semerawut, selimutnya juga terjatuh ke lantai. Mungkin semalam dia kegerahan karena musim sudah berganti. Hari ini Irene bebas bermalas-malasan karena sekolah memasuki masa libur panjang.

Eonni kau sudah bangun?” tanya Yeri sembari menyembulkan kepalanya dari pintu kamar Irene. “Aigoo kenapa dengan tempat tidurmu? Aku penasaran bagaimana reaksi calon suamimu melihat semua ini,” ucapnya menggeleng-gelengkan kepala.

Yeri mengambil selimut yang tergeletak di lantai. Melipatnya dengan rapi kemudian menyimpannya di ujung tempat tidur. Tidak seperti biasanya Yeri seperti ini.

“Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak pernah peduli, eoh?” cibir Irene.

“Bersyukurlah karena sekarang aku peduli,” balasnya sambil berjalan keluar kamar.

Irene bangkit dari kasurnya. Dia merapikan kasurnya yang masih berantakan. Lalu bergegas mandi karena tidak tahan dengan kegerahan yang dia rasakan.

*****

Irene memakai kaos putih berlengan pendek dengan gambar seekor monyet dan celana olahraga. Dia tidak suka mengikuti style orang-orang di sekitarnya yang memakai baju tipis dengan celana atau rok yang sangat pendek, seperti pakaian yang dipakai Yeri hari ini. Anak itu memakai baju berkain tipis dengan hot pants. Yeri memang terlihat cantik tapi Irene merasa geli melihat adiknya berpakaian seperti itu.

“Kau memasak?” tanya Irene ketika melihat beberapa hidangan sudah tersedia di atas meja makan.

“Tentu, memangnya siapa lagi yang ada disini selain aku?”

“Kau aneh sekali hari ini,” ucap Irene sambil menatap Yeri dengan penuh selidik.

“Aneh apanya? Aku berusaha menjadi adik yang baik!” teriak Yeri kesal. “Ayo makan, kau harus merasakan kedahsyatan masakanku ini,” ucapnya dengan nada bicara yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Irene duduk di salah satu kursi dan mulai mencicipi masakan adiknya. Sementara Yeri duduk disebelahnya, menunggu tanggapan Irene dengan antusias. “Bagaimana?” tanya Yeri penasaran.

“Hmm…, lumayan. Jika kau memasaknya empat puluh detik lagi, ini akan menjadi masakan yang sempurna,” ucap Irene.

“Benarkah? Aku tidak menyangka masakanku seenak itu,” gumam Yeri.

Keduanya tidak saling berbicara selama beberapa menit. Irene sibuk memakan makanan yang dibuat oleh Yeri. Sementara Yeri sendiri sibuk merangkai kata demi kata dalam otaknya.

Eonni, aku sudah berusaha menjadi adik yang baik. Maka kau juga harus menjadi kakak yang baik,” ucapnya kemudian menampilkan seringai menakutkan pada Irene.

Aish, kali ini apalagi?” Irene memutar bola matanya malas. Seharusnya dia menyadari perubahan sikap adiknya itu mengandung makna yang pasti akan membuat dirinya sulit.

“Aku ingin ikut berlibur dengan teman-temanku ke Jeju, boleh ya?” Yeri mengedipkan kedua matanya berkali-kali, mencoba merayu Irene.

“Kalau kau punya uang, kenapa tidak?” ucap Irene acuh.

Eonni, aku tidak punya uang, pakai uang tabungan untuk biaya kuliahmu saja dulu ya?” Sekarang anak itu sedang ber—aegyo di depan wajah Irene.

Irene menatapnya sangat tajam. “Maksudmu menghabiskan uang yang sudah aku kumpulkan bertahun-tahun untuk liburan yang hanya beberapa hari? Tidak bisa!” ucap Irene. Dia berdiri dari kursi merasa nafsu makannya sudah hilang. Seenaknya saja Yeri ingin menghabiskan uang itu. Irene benar-benar merasa kesal. Tanpa berpamitan kepada Yeri, dia langsung pergi keluar rumah untuk menghilangkan kekesalannya.

*****

Berjalan tanpa tujuan, itulah yang dilakukan Irene sekarang ini. Rasa kesal yang menumpuk di hatinya sudah mulai hilang. Tepat saat ini dia sedang berdiri di depan sebuah cafe yang sangat terkenal di Seoul. Selain karena hidangan yang disajikan rasanya enak, design interiornya pun sangat bagus, sehingga menarik para pelanggan masuk tidak peduli seberapa mahalnya harga yang dipasang.

Irene menerawang keadaan di dalam cafe itu dari pintu yang terbuat dari kaca. Dia melihat seseorang yang tak asing. Umji. Dia adalah sahabat Yeri. Irene mengetahuinya karena wallpaper ponsel Yeri adalah foto mereka—Yeri dan Umji. Dan lagi Yeri sering kali menyebutkan nama Umji ketika bercerita tentang sekolahnya.

Umji sedang berkumpul bersama empat orang lainnya, satu perempuan dan tiga laki-laki. Apakah mereka semua adalah teman Yeri? Lalu kenapa anak itu tidak ikut berkumpul bersama mereka? batin Irene bertanya. Entah apa yang membuat kakinya melangkah memasuki cafe itu. Irene tidak membawa banyak uang dan sepertinya hanya cukup untuk membeli segelas teh. Namun karena sudah terlajur masuk, rasanya sangat malu jika harus keluar lagi, Irene memutuskan untuk duduk tak jauh dari kelima orang yang ia yakini sebagai sahabat Yeri.

Seorang pramusaji menghampiri meja yang ditempati Irene dengan senyum cerah. “Silahkan, mau pesan apa?” tanya pramusaji itu ramah sambil menyimpan menu hidangan di meja. Pramusaji itu bersiap dengan kertas dan penanya untuk menulis pesanan. Tapi sayang, Irene tidak berniat melihat menu karena dia sudah tahu apa yang harus dia pesan. “Aku ingin secangkir teh,” ucap Irene sambil tersenyum.

“Itu saja?”

“Ya.”

Setelah pramusaji itu pergi, Irene mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh kelima orang itu. Irene mendengar dengan jelas saat salah seorang dari mereka menyebutkan nama adiknya, Yeri.

“Apa kau berpikir Yeri akan ikut?”

Irene menyiagakan telinganya untuk menguping pembicaraan Umji dan yang lainnya.

“Ikut? Dia bahkan tidak punya uang untuk membeli tas model baru,” cibir salah seorang dari mereka. Telinga Irene terasa sedikit hangat. Tapi dia akui mereka memang tidak punya banyak uang, apalagi hanya untuk membeli tas model baru.

“Hey, jangankan tas model baru, apa kalian tidak memperhatikan sepatunya? Argh, kupikir aku akan membuangnya jika sepatu itu milikku. Benar-benar sudah lusuh,” ucap yang lainnya, membuat telinga Irene memanas.

“Bagaimana jika kita taruhan?” usul seorang gadis.

“Taruhan apa?”

“Taruhan apakah Yeri akan ikut bersama kita atau tidak, bagaimana?”

“Aku pikir dia tidak akan ikut,” ucap seorang lelaki. Suaranya sangat bagus. Baiklah, itu tidak penting sekarang.

“Aku juga berpikir seperti itu.” Kali ini seorang perempuan

“Sebenarnya aku berpikir Yeri tidak akan ikut, tapi jika semua orang memilih Yeri tidak akan ikut, maka taruhan ini menjadi tidak seru. Aku memilih Yeri ikut,” ucap seorang lelaki, suaranya berbeda dengan yang pertama.

“Aku setuju! Aku juga memilih Yeri akan ikut,” ucap lelaki lainnya. Irene tidak bisa mengetahui siapa yang sedang berbicara karena posisinya membelakangi mereka. Lagipula Irene juga tidak tahum nama dari kelima anak itu, kecuali Umji.

“Bagaimana denganmu, Umji? Apa kau sudah menentukan pilihan? Bukankah kau yang paling dekat dengan Yeri?” tanya gadis yang mengusulkan taruhan ini.

“Hmm, ini cukup sulit. Kalian tahu, aku tidak tega mengatakannya. Tapi aku optimis bahwa aku akan menang. Aku memilih Yeri tidak ikut,” ucap Umji.

Irene sangat marah. Wajahnya merah padam. Jadi selama ini mereka tidak tulus bersahabat dengan Yeri. Bahkan hal seperti ini tidak layak dikatakan persahabatan. Ketika pramusaji datang kembali dengan membawa secangkir teh, Irene mengeluarkan semua uang yang dimilikinya ke atas meja. Tanpa meminum setetespun teh yang telah di pesannya, ia langsung pergi meninggalkan cafe itu dengan wajah merah padam. Irene tidak berpikir tentang kelebihan uang yang dia bayar. Walaupun sebenarnya dia sendiri tidak tahu berapa banyak uang yang dia bawa. Yang pasti uang itu sedikit lebih banyak dari harga secangkir teh.

Irene berjalan cepat menuju rumahnya. Setelah sampai, Irene menggebrak pintu, membuat Yeri sangat kaget karena gadis itu sedang bersantai di ruang tamu.

Eonni, apa kau marah padaku? Kalau begitu aku tidak perlu ikut berlibur, lagipula kita masih bisa berlibur di Seoul bersamamu,” ucap Yeri disertai senyum yang tulus. Sejak Irene pergi, Yeri telah memikirkan semuanya. Terutama permintaan bodohnya kepada Irene.

Yeri memang sangat ingin pergi berlibur bersama teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya banyak uang. Meskipun ada, sudah pasti Irene akan memakainya untuk biaya pendidikan. Yeri juga tidak tega melihat kakaknya terus-terusan bekerja paruh waktu pada sore dan malam hari untuk meraup uang sebanyak yang dia bisa. Sementara Yeri hanya akan menghabiskannya untuk hal yang tidak berguna.

Ani, segera kemasi barang-barangmu untuk berlibur ke Pulau Jeju! Jangan pikirkan tentang biaya, aku punya banyak uang,” ucap Irene sangat cepat. Yeri tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia memeluk Irene sangat erat.

“Apa kau serius? Kau punya banyak uang?” tanya Yeri tanpa melepas pelukkannya.

“Tentu saja, aku ini sangat kaya! Cepat kemasi barangmu!” Irene melepaskan pelukkan Yeri.

“Tapi kau tidak menggunakan uang untuk biaya kuliah kan? Aku tidak mau pergi jika uang yang kupakai adalah uang untuk membayar kuliahmu,” ucap Yeri.

“Tidak, aku punya tabungan di bank, kau boleh menggunakannya,” bohong Irene. Sebenarnya ia tidak memiliki tabungan sepeserpun di bank. Semua keuangan mereka dipegang oleh Irene, sehingga Yeri tidak mengetahui apapun.

“Benarkah?” tanya Yeri tidak percaya.

“Kau meremehkanku eoh, sudahlah pokoknya kau harus pergi ke Jeju. Tapi, setelah itu kau tidak boleh bermain bersama mereka lagi.”

Waeyo?”

“Kau akan tahu jawabannya nanti,” ucap Irene sedikit lebih santai.

*****

Sementara itu, Umji, Yeeun, Bambam, Jungkook, dan Kemy masih membicarakan taruhan mereka. Yeeun meminum kopi miliknya sebelum berbicara mengenai hukuman bagi yang kalah taruhan. Setelah kerongkongannya tersiram oleh air kopi berwarna coklat itu, Yeeun mulai berbicara.

“Okay, jadi siapapun yang kalah harus mentraktir yang menang,” ucap Yeeun.

“Hanya itu? Tidak seru!” timpal Bambam.

“Aku belum selesai bicara! Selain itu, Jungkook kau satu-satunya lelaki yang memilih Yeri tidak ikut, jika kau kalah maka kau harus menjadi kekasihnya selama tiga bulan.” Yeeun mengakhiri kalimatnya.

“Hey itu tidak adil!” sanggah Jungkook.

“Sudahlah, ikuti saja,” ucap Kemy sambil menepuk bahu Jungkook.

*****

Dua hari berikutnya, Yeri telah siap dengan sebuah koper dan tas selempang kecil tergantung di pundaknya. Irene mengantar Yeri ke rumah Umji, karena sebelumnya mereka sudah sepakat untuk berkumpul disana sebelum berangkat ke Jeju.

Ketika mereka berdua sampai, mereka disambut oleh senyum dari Umji, Yeeun, Jungkook, Kimy, dan Bambam. Senyum palsu, hati Irene berbicara. Tapi kemudian Irene membalas mereka dengan senyum palsu juga.

“Yeri, aku senang sekali kau bisa ikut bersama kami,” ucap Yeeun.

Cih, pendusta!” desis Irene dengan suara sangat kecil, sehingga mereka tidak mendengarnya.

“Aku juga sangat senang bisa berlibur bersama kalian.” Yeri menampilkan senyumnya yang paling lebar, menandakan bahwa dia sangat sangat gembira.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang ya, Yeri hati-hati!” Irene melambaikan tangannya.

*****

Setelah kepergian Yeri ke Jeju satu hari yang lalu, Irene harus kembali bekerja. Namun, karena sekarang sedang libur panjang, Irene tidak mengambil kerja paruh waktu, dia bekerja dengan full-time. Lagipula dia akan bosan berada di rumah tanpa kehadiran Yeri yang cerewet.

Irene bekerja sebagai kasir di salah satu mini market. Sesekali dia juga membantu membereskan dan mengangkat barang-barang yang baru datang karena kasihan melihat ahjussi yang bertugas di bagian itu. Kebetulan siang hari ini pengunjung sangat ramai, mereka tidak membiarkan Irene beristirahat sejenak. Tapi ketika malam, suasana begitu sepi, jadi Irene bisa sedikit bersantai.

Seorang lelaki memasuki mini market, sontak Irene berkata, “Selamat datang dan selamat berbejanja.” Lelaki itu tersenyum pada Irene. “Kau bekerja disini?” tanyanya. Irene mengerutkan dahinya, sepertinya dia tidak pernah bertemu dengan orang itu.

“Maaf, apa aku mengenalmu?” tanya Irene hati-hati.

“Ah, mungkin karena penampilanku yang berbeda, kau jadi tidak mengenalku ya? Kau ingat dulu pernah mempunyai seorang teman bertubuh gemuk yang sering mendapatkan cemoohan?” Lelaki itu tersenyum.

Irene tahu siapa orang yang dimaksud lelaki itu. “Jin? Apa kau Seok Jin?” Irene tidak percaya.

“Akhirnya kau ingat,” ucapnya sambil menghela napas lega.

Aigoo, bagaimana bisa sekarang penampilanmu seperti ini?”

Jin tertawa, “aku melakukan diet ketat seperti yang dilakukan orang-orang, kau tahu, aku bosan disebut gendut.”

Irene juga tertawa sangat keras. Dia berusaha membandingkan Jin yang dulu dengan Jin yang sekarang. Oh, mereka sangat berbeda. Dan Irene hampir saja lupa, kalau orang di depannya itu adalah mantan pacarnya sendiri.

“Saat masa Junior High School kau sangat lucu dan menggemaskan Jin,” ucap Irene.

“Lalu sekarang?” Jin memasang wajah so cool.

“Yah, jujur saja sekarang kau terlihat…, eum tampan,” ucap Irene sambil menggaruk kulit kepalanya.

“Sedangkan kau dari dulu tidak berubah.”

“Yah, begitulah,” ucap Irene menghela napasnya.

*****

Tiga hari setelah pertemuan yang memalukan itu, Irene dan Seok Jin sering bertemu. Tentu saja pertemuannya sedikit memalukan karena Irene tidak mengenali Seok Jin. Selain bertemu di tempat kerja Irene, terkadang Seok Jin mengajaknya jalan-jalan ketika jam istirahat atau setelah Irene menyelesaikan pekerjaannya. Agaknya cukup melelahkan bagi Irene, namun gadis itu sangat menikmatinya. Dia sangat menyukai langkah kakinya ketika ia berjalan dengan Seok Jin. Irene menyukai ketika keringatnya bercucuran ketika berlari karena takut terlambat masuk kerja setelah menghabiskan waktu istirahat yang sebentar bersama Seok Jin.

“Oh ya, bukankah kau memiliki adik? Dimana dia aku tidak melihatnya?” tanya Seok Jin.

Irene menyimpan dua botol kaleng minuman di meja. Kemudian duduk di kursi ruang tamu. Seok Jin bilang dia ingin menginap di rumah Irene karena apartementnya sedang di renovasi.

“Dia sedang berlibur di pulau Jeju bersama temannya, kenapa?”

“Tidak, aku hanya rindu pada anak kecil itu. Apakah dia masih cerewet seperti dulu?”

“Begitulah.”

“Dia sangat lucu.”

Seok Jin mengelilingkan pandangannya menyusuri ruang tamu yang tidak terlalu besar itu. Matanya berhenti pada sebuah figura berisikan foto Irene dan Yeri. Refleks Seok Jin berdiri dan menghampiri figura itu. “Ini Yeri? Wah, aku tidak menyangka anak itu akan jadi secantik ini.”

“Ibuku sangat cantik dan ayahku sangat tampan, jadi jangan heran kalau aku dan Yeri terlihat cantik,” ucap Irene dengan bangga.

“Kau sangat percaya diri,” cibir Seok Jin.

“Umm, berapa lama dia berlibur?” tanya Seok Jin.

“Satu minggu.”

Seok Jin hanya membulatkan bibirnya. Sementara itu Irene bergegas menyiapkan kamar untuk Seok Jin. Lelaki itu akan tidur di kamar Yeri karena dirumah itu hanya terdapat dua kamar. Karena merasa tidak enak hati, Seok Jin membantu Irene membereskan kamar.

“Irene,” ucap lelaki itu membuat sang pemilik nama menoleh.

“Ya?”

“Bagaimana jika seseorang dari masa lalu tiba-tiba datang dan bermaksud untuk mengajakmu menikah?” tanya Seok Jin dengan raut wajah sangat serius.

“Wow, itu sangat mengejutkan,” jawab Irene tanpa berpikir.

Kedua terdiam untuk beberapa saat. Irene terpikir tentang pertanyaan Seok Jin barusan. Bukankah Seok Jin adalah masa lalunya yang tiba-tiba datang kembali ke kehidupannya sekarang? Lalu apa arti pertanyaan Seok Jin itu? Irene bertanya-tanya.

“A-apa pertanyaanmu itu….” Irene menggantungkan kalimatnya. Dia menatap lurus Seok Jin yang sekarang sedang tersenyum padanya.

“Ini terlalu mengejutkan bukan? Aku telah mengumpulkan keberanianku untuk mendekatimu lagi selama ini. Sebenarnya aku sudah berada di Seoul sejak bulan lalu, tapi aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk sekedar menghampirimu. Aku merasa malu dengan apa yang terjadi di masa lalu. Dan sekarang dengan lancangnya aku ingin mengajakmu untuk menikah,” jelas Seok Jin panjang lebar.

Dulu Seok Jin merupakan korban bullying di sekolah. Hanya Irene yang peduli padanya. Irene merupakan orang yang populer ketika berada di High School jadi dia bisa melindungi Seok Jin dari perlakuan jahat teman-temannya. Sampai akhirnya gadis itu membuat Seok Jin jatuh hati.

“Aku sudah tidak memikirkan tentang apa yang terjadi di masa lalu. Yang penting adalah dirimu sekarang,” ucap Irene.

Seok Jin berlutut di hadapan Irene. Dia meronggoh saku belakang celananya mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah. Lalu membuka kotak itu dan menyodorkannya pada Irene.

“Jadi, maukah kau menikah denganku, Bae Irene?”

“Umm—, ini terlalu cepat Jin, aku belum bisa menerimanya. Aku belum berpikir untuk menikah. Aku harus menyelesaikan kuliahku, meraih cita-citaku, dan masih banyak hal yang ingin aku lakukan,” ucap Irene.

Seok Jin tersenyum kaku. Dia menutup kembali kotak berisi cincin itu kemudian berdiri seperti posisi semula. “Aku mengerti. Semua ini salahku, aku terlalu terburu-buru,” ucap Seok Jin.

“Bukan salahmu juga. Seok Jin-ah, kau perlu tahu, sejak hubungan kita berakhir aku tidak pernah melihat lelaki lain, aku tidak pernah memiliki hubungan istimewa dengan orang lain.”

Eonni!

Tiba-tiba Irene dan Seok Jin mendengar suara itu dari arah ruang tamu.

Eonni, aku pulang!”

Tidak salah lagi, dia pasti Yeri. Bukankah dia seharusnya masih berada di Jeju? Irene segera keluar dari kamar itu untuk memastikan keberadaan Yeri. Benar saja, gadis itu sedang membuka sepatunya di dekat pintu.

“Yeri-ya, kau sudah pulang? Bukankah seharusnya kau pulang beberapa hari lagi?” tanya Irene khawatir. Dia takut adiknya diperlakukan buruk oleh teman-temannya ketika berada di Jeju.

Wae? Kau tidak suka aku pulang lebih cepat?” tanya Yeri sambil memalingkan wajahnya.

“Bukannya begitu. Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?”

“Itu adalah liburan yang penuh tangisan. Tapi aku merasa lega,” ucap Yeri membuat kening Irene berkerut.

“Penuh tangisan?” ulang Irene.

“Aku tidak menyangka mereka ternyata selalu membicarakanku dibelakang. Umji dan yang lainnya mengakui semuanya disana, lalu mereka meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Liburan itu romantis juga, Jungkook mengajakku berpacaran disana. Sudah lama juga aku menyukai lelaki itu,” jelas Yeri panjang lebar.

“Jungkook?” tanya Irene dengan raut wajah kaget.

Ya! kenapa wajahmu kaget begitu? Omong-omong maafkan aku karena aku lebih dulu memiliki kekasih sedangkan kau masil lajang,” ucap Yeri disusul dengan tawanya.

“Yeri-ya, apa yang kau katakan? Mulai sekarang Irene akan menjadi kekasihku, jadi tarik kembali perkataanmu itu!” Seok Jin tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka.

Yeri membulatkan matanya. Kenapa ada lelaki di rumah ini? Yeri bertanya-tanya.

“Siapa kau?” tanya Yeri.

Seok Jin menunjukkan bekas luka gigitan yang ada di lengan kanan bagian atasnya. Meskipun luka itu sudah mulai memudar.

“Seok Jin oppa?”

“Kau masih mengingatnya ternyata,” ucap Seok Jin.

“Tapi—, eonni apa benar Seok Jin oppa menjadi kekasihmu lagi?”

“Tadi aku sudah melamarnya. Sayangnya aku ditolak. Tapi tidak apa-apa, kita masih bisa memiliki hubungan spesial ‘kan?” Seok Jin melirik Irene. Gadis itu menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal.

“Umm, ne,” ucap Irene pelan.

“Woah jinja? Kalian kembali berpacaran? Daebakk!!

*****

Keesokkan harinya, Jungkook datang ke kediaman Yeri dan Irene. Yeri masih sibuk bersiap-siap sementara Seok Jin masih tertidur di ruang tengah.

“Jadi, kau yang bernama Jungkook?” tanya Irene.

Ne.”

“Apa ini termasuk rencana kalian?”

Ne? Rencana apa?”

“Aku mendengar pembicaraan kalian sebelum pergi ke Jeju. Kalian membuat taruhan ‘kan?” Irene menatap tajam Jungkook.

“Itu, kami memang membuat taruhan. Tapi hubunganku dengan Yeri tidak ada hubungannya dengan taruhan itu, lagipula kami sudah membatalkan taruhan itu,” ucap Jungkook.

Flashback

Malam Pertama di Pulau Jeju.

Semuanya berada di dalam kamar hotel Yeri dan Umji. Mereka memakan makanan yang telah mereka beli sebelumnya. Yeri memakan makanannya dengan lahap, tidak seperti kelima temannya. Mereka seperti tidak memiliki nafsu makan.

“Makanan ini sangat enak! Besok aku harus membelinya lagi,” ucap Yeri dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Ya! Aku sangat senang bisa berlibur bersama kalian. Kalian benar-benar sahabat terbaikku,” lanjut Yeri dengan wajah ceria.

“Aku pikir kita bukanlah sahabat yang baik untukmu,” ucap Umji pelan. Kepalanya menunduk. Yeeun, Jungkook, Bambam, dan Kemy menoleh pada Umji.

“Apa yang kau katakan? Kalian adalah sahabat terbaikku.”

“Tidak Yeri. Kami benar-benar sahabat yang buruk,” ucap Umji.

Suasana dalam kamar hotel itu menjadi hening. Tak ada yang berbicara. Umji menitikkan air matanya. Yeri masih tidak mengerti apa maksud perkataan Umji barusan. Sementara yang lainnya menunduk.

“Tidakkah hati kalian tergerak? Yeri bilang kita adalah sahabat terbaiknya, tapi apa yang kita lakukan?” tanya Umji pada semua orang disana kecuali Yeri. Pertanyaan Umji itu membuat Yeri semakin bingung.

“Ada apa ini? Memangnya apa yang telah kalian lakukan tanpa aku? Aku kira kita selalu melakukan semua hal bersama-sama,” ucap Yeri.

Mianhae Yeri-ya, sebenarnya kami sering membicarakanmu dibelakang. Kami benar-benar minta maaf, kami sangat menyesal,” ucap Yeeun.

“Apa salahku? Kenapa kalian tega melakukan hal itu?” Yeri menangis saat itu juga. Jungkook merasa hatinya sangat sakit melihat gadis itu menangis. Rasa sakit itu sangat berbeda. Lelaki itu tidak bisa menjelaskannya.

Yeri berlari keluar kamar hotel. Jungkook segera menyusulnya namun Yeri berlari sangat cepat. Itu karena dia merupakan seorang atlet lari. Jungkook kesulitan mengejarnya dan Yeri menghilang dari padangan Jungkook. Dia terus mencari Yeri sampai akhirnya menemukan gadis itu sedang memeluk kakinya di pinggir pantai. Jungkook segera mendekat, dia duduk di samping Yeri.

“Jangan menangis,” ucap Jungkook.

“Setelah apa yang kau lakukan kau menyuruhku jangan menangis? Kau tidak merasakan bagaimana sakitnya hatiku. Kalian sangat jahat!”

“Tangisanmu itu membuat hatiku sakit.” Jungkook menatap air laut.

“Kau punya hati?” tanya Yeri sinis.

Mianhae Yeri-ya,” ucap Jungkook sambil menunduk.

“Aku kira kalian tulus berteman denganku. Aku memang bukan dari keluarga kaya seperti kalian, uangku tidak banyak, dan aku selalu merepotkan kalian. Aku menyadari itu. Tapi aku tidak terima jika kalian mengataiku dibelakang. Apakah aku tidak pantas berteman denganmu, Jungkook-ah?”

Jungkook hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Yeri.

“Kenapa kau diam? Apa aku tidak pantas bersama kalian?”

“Yeri-ya!” Panggil Umji. “Ayo kita mulai semuanya dari awal,” ucapnya.

“Aku sangat menyayangi kalian. Aku berusaha untuk selalu bisa pergi bersama kalian. Dan aku rasa aku juga tidak bisa jauh dari kalian,” ucap Yeri disela-sela tangisannya.

Hati Jungkook bergetar. Dia sangat ingin memeluk gadis itu sekarang juga. Yeri menghapus air matanya.

“Kita mulai semuanya dari awal lagi,” ucap Yeri sambil tersenyum. Umji, Yeeun, Bambam, Kemy, dan juga Jungkook memeluk Yeri secara bergantian.

“Sudah malam, sebaiknya kita kembali ke hotel,” ucap Bambam.

“Jungkook-ah, bisakah kau menggendongku? Kakiku terkilir ketika berlari,” ucap Yeri sambil menunjukkan rentetan giginya yang tersusun rapi.

“Kakimu terkilir? Aish gadis ceroboh ini. Baiklah aku akan menggendongmu,” ucap Jungkook.

Umji, Yeeun, Bambam, dan Kemy telah berjalan duluan menuju hotel. Jungkook menggendong Yeri dipunggungnya.

“Yeri, aku mohon jangan menangis lagi,” ucap Jungkook.

“Itu membuatmu sakit hati?” tanya Yeri.

“Ya. Rasa itu sangat sulit dijelaskan. Ini aneh, aku juga sering ikut membicarakanmu tapi hatiku sakit ketika melihatmu menangis. Kenapa aku merasakan hal seperti ini Yeri-ya?”

“Umm, apa kau menyukaiku?”

Jungkook membelak. Apakah aku menyukai Yeri? Kenapa aku melakukan hal yang dapat membuatnya sakit hati dan menangis seperti tadi? pikir Jungkook.

“Jungkook-ah, bolehkah aku jujur padamu?” tanya Yeri.

“Katakan saja.”

“Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu. Aku sangat senang kau adalah orang pertama yang menyusulku tadi. Dan sebenarnya kakiku tidak terkilir, aku hanya ingin mengerjaimu saja.”

Jungkook merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.

“Ya! bisa-bisanya kau memanfaatkan kejadian ini,” ucapnya.

Yeri tertawa. Tak lama kemudian Jungkook pun ikut tertawa.

“Jantungku berdetak sangat kencang ketika kau berkata kau menyukaiku,” ucap Jungkook jujur. “Aku ingin mencoba menjadi orang spesial di hidupmu, apa boleh?” lanjutnya.

“Eh? Kau mengajakku berpacaran?”

Jungkook mengangguk.

“Baiklah.”

Flashback End

Irene memperhatikan Jungkook intens. Membuat lelaki itu merasa gugup dan berkeringat dingin. Itu memang berlebihan, tapi itulah yang dirasakan lelaki bernama Jungkook itu. Beruntung Yeri segera datang.

Kajja Jungkook-ah!” ucap Yeri.

“Tolong jaga Yeri, aku mempercayaimu Jungkook,” ucap Irene sambil tersenyum.

“Pasti noona, kalau begitu kami pergi dulu.”

*****

Beginilah akhirnya, kakak beradik itu mendapatkan kekasih dalam waktu yang hampir berdekatan. Setidaknya kehadiran Seok Jin dan Jungkook membuat hidup mereka lebih berwarna. Yeri, Umji, Yeeun, Bambam, Kemy, dan Jungkook bersahabat dengan baik. Sekarang mereka telah memahami arti persahabatan yang sesungguhnya. Walaupun masih ada pertengkaran kecil diantara mereka, namun mereka tetap saling menyayangi.

END

Annyeong! FF pertama aku disini, semoga suka ya 😀

One thought on “Meaningful [Oneshot]

Give me your feedback ♥

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s