I Cry For My Brother


Untitled-2
Title : I Cry For My Brother || Author : Baby Think Girl || stars : seohyun – suho || Genre : sad, family || Rating : G || Length : one shoot || synopsis : seohyun dan suho adalah saudara yang berasal dari keluarga yang sederhana. Suho mengorbankan semuanya untuk kebahagiaan kakaknya seohyun.

-Seohyun POV-
Namaku seohyun, aku dilahirkan di sebuah desa di bawah bukit yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang dongsaeng, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri 50 won dari laci appa. Appa segera menyadarinya. Appa membuat suho dan aku berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat rotan di tangannya.:
“Siapa yang mencuri uang itu?” appa bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Appa tidak mendengar siapa pun mengaku
“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”.
Dia mengangkat tongkat rotan itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, suho mencengkeram tangannya
“Appa, aku yang melakukannya! “.
Tongkat panjang itu menghantam punggung suho bertubi-tubi. Appa begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai appa kehabisan nafas. Sesudahnya, appa duduk di atas ranjang batu bata.
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”. Bentak appa
Malam itu, ibu dan aku memeluk suho dalam pelukan kami. Tubuhnya penuhdengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. suho menutup mulutku dengan tangan kecilnya.
“eonni, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Ucap suho
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11tahun. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, appa berjongkok di halaman,menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut
“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas.
“Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”. Ucap ibu
Saat itu juga, suho berjalan keluar ke hadapan appa
“Appa, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”
Appa mengayunkan tangannya dan memukul suho pada wajahnya.
“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?. Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”.
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di desa itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka suho yang membengkak.
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Ucapku kepada suho
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, suho meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku.
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”.
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun.Aku 20. Dengan uang yang appa pinjam dari seluruh desa, dan uang yang suho hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukanku bahwa ada seorang pemuda lusuh mencariku.
” Ada seorang penduduk desa menunggumu di luar sana !”.
Mengapa ada seorang penduduk desa mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku suho dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
“Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari pakaian adikku suho.
“Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. “. ucapku menangis
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,
“aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik suho ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan eomma.
“eomma tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” ucapku
“Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”.
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
“Apakah itu sakit?” tanyaku
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota . suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan desa, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga.
“eonni, jagalah mertuamu saja. aku akan menjaga eomma dan appa di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi suho menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, suho di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel,ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya.
“Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” gerutuku
“Pikirkan kakak ipar…ia baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” bantahnya
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah
“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu,ia berusia 26 dan aku 29.
suho kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari desa itu
“Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanya seorang pembawa acara dalam pernikahannya.
Tanpa berpikir panjang ia menjawab “uri eonni”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat :
“Ketika aku SD yang tempatnya berada pada desa yang berbeda. Setiap hari eonni dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan salah satu dari sarung tanganku.eonni memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga eonni dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah ku ucapkan keluar bibirku .
“Dalam hidupku, orang yang paling berharga dan ingin ku ucapkan terima kasih adalah adikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

~~~~~~~~~~ END~~~~~~~~~~
Jangan close sebelum meninggalkan jejak πŸ™‚
Budayakan RCL (read.comment.like) πŸ™‚
Gomawo πŸ™‚

8 thoughts on “I Cry For My Brother

  1. Wah… Ini ff-nya aku suka bangeet…
    Dan, aku kasih masukan dikit, ya… Hehe πŸ˜€
    Kata dan kalimatnya lebih dirapihin lagi… Terus, alurnya jangan terlalu cepet. Oh iya, satu lagi… Harusnya Suho manggil Seohyun itu ‘Noona’ bukan ‘Eonni’

    Oke, mungkin ini aja bacotan tak bermutu dariku πŸ™‚
    Keep writing and fighting, ya!
    Dan, maaf kalau aku sok tahu :v

    Like

  2. Ini fix sedih arghh Suho kenapa image orang kayanya seolah terbuang begitu saja /gak
    Persaudaraannya dapet banget, overall bagus dan nggak hiperbola juga. Bagus. Ya bagus pokoknya

    Tapi kalo boleh saya kasih masukan, penulisannya kalo bisa lebih rapih pasti makin bagus πŸ™‚

    sekian dulu author-nim, keep writing!

    Like

Give me your feedback β™₯

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s